Assalamu'alaykum... Selamat datang di blog saya..

Muslimah

Muslimah

Minggu, 29 Juli 2012

Satu Kata Berjuta Asa: CAHAYA

Minadz dzulumumaati ilan nuur - dari kegelapan menuju cahaya - Dari secuplik firman Allah tersebut kita bisa belajar banyak hal. Cahaya, secara definisi ilmiah didefinisikan sebagai energi berbentuk gelombang elekromagnetik yang kasat mata dengan panjang gelombang sekitar 380–750 nm (Kalumuck, 2000). Secara definisi fisika, cahaya diartikan sebagai radiasi elektromagnetik, baik dengan panjang gelombang kasat mata maupun yang tidak (Smith, 2006; Kumar, 2008).
Selanjutnya, kita akan belajar lebih dalam memahami Cahaya. Selayaknya makhluk hidup dan benda-benda lainnya, cahaya memiliki beberapa sifat.
1. Cahaya merambat menurut garis lurus. Cahaya merupakan partikel-partikel yang sangat kecil dan bergerak sangat cepat dengan lintasan garis lurus. Cahaya memiliki kecepatan 300.000 km per detik. Garis-garis maya lurus yang menggambarkan cahaya disebut sinar cahaya. Kumpulan sinar-sinar cahaya akan membentuk berkas cahaya. Bayangan-bayangan dapat terjadi karena cahaya merambat lurus. Cahaya tidak dapat mencapai daerah di belakang benda.
2. Cahaya dapat dibiaskan. Cahaya yang merambat dari suatu zat ke zat lain akan dibiaskan di bidang perbatasan. Pembiasan cahaya disebut juga pembelokan cahaya. Contoh peristiwa pembiasan adalah dasar kolam yang airnya jernih tampak lebih dangkal dari biasanya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena cahaya yang datang dari zat yang renggang (udara) menuju zat yang lebih rapat (air kolam) akan dibiaskan mendekati garis normal sehingga dasar kolam tampak lebih dangkal.
3. Cahaya dapat menembus benda-benda bening. Benda tembus pandang atau benda bening hampir seluruhnya mampu meneruskan cahaya yang diterimanya. Contoh benda tembus cahaya adalah gelas kaca, botol, toples, dan air. Tumbuhan dan hewan yang hidup di dalam air juga membutuhkan cahaya matahari untuk kehidupan mereka. Cahaya matahari dapat menembus air laut, air sungai, dan air kolam yang dalam, asalkan air tersebut bening.
4. Cahaya dapat dipantulkan. Bila cahaya mengenai suatu benda maka terdapat dua kemungkinan peristiwa yang akan dialami oleh cahaya tersebut. Yang pertama adalah sebagian cahaya tersebut akan diteruskan ke dalam benda yang dikenainya. Sedangkan kemungkinan kedua adalah sebagian cahaya akan dipantulkan kembali.
Sampai sini dulu pembahasan ilmiah terkait cahaya. Trus, apa hubungannya penjelasan ilmiah cahaya dengan cuplikan firman Allah swt di awal tulisan ini? OK. Selanjutnya, simak terjemahan lengkap dari cuplikan ayat di atas.
Allah pelindung bagi orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Sedangkan orang-orang kafir itu, pelindung-pelindung mereka adalah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 257)
Cahaya dalam ayat ini ditasfirkan sebagai hidayah Allah. Allah memberikan hidayah kepada setiap hamba-Nya. Namun, tidak semua orang mau dan mampu menjemput hidayah yang diberikan Allah. Begitulah... pemberian hidayah yang diberikan Allah bisa kita dekati dengan cara kerja cahaya, dimana cahaya merupakan kumpulan energi elektromagnetik yang kasat mata, hidayah pun bersifat kasat mata, tak terlihat tapi bisa dirasakan. Selanjutnya, coba simak keempat sifat cahaya yang telah dipaparkan di atas kemudian coba kaitkan dengan sifat hidayah yang diberikan Allah.
1. Cahaya merambat menurut garis lurus.
Inilah hikmah dibalik seruan kewajiban menegakkan shalat, dimana di setiap rakaat kita diwajibkan membaca surat Al-Fatihah, yang didalamnya terdapat doa: Tunjukkilah kami jalan yang lurus, Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat. Jika kita senantiasa ajeg menegakkan sholat, Insya Allah, kita telah berusaha membentuk lintasan lurus sehingga hidayah itu bisa sampai dan mudah kita dapatkan.
2. Cahaya yang merambat dari suatu zat ke zat lain akan dibiaskan/dibelokkan. Kaitannya dengan hidayah, hidayah itu datang dari Dzat Yang Maha Kuasa menuju zat padat-manusia yang tercipta dati tanah. Jika sinar hidayah yang datang dari Allah swt menuju manusia, zat yang senantiasa mendekat pada Rabbnya, maka, hidayah itu akan merapat (sinar bias akan mendekati garis normal) dan dapat dengan mudah diraih. Namun sebaliknya, jika sinar hidayah datang menuju manusia, zat yang jauh dari Rabbnya, maka sinar bias akan menjauhi garis normal. Dengan kata lain, hidayah pun akan semakin jauh dan susah diraih.
3. Cahaya dapat menembus benda-benda bening.
Maknanya bahwa hidayah yang diberikan Allah akan mudah menembus hati manusia yang suci, tidak banyak maksiat, dan beraklak terpuji. Disebutkan dalam beberapa hadits bahwa jika seorang hamba berbuat dosa, maka timbul satu titik hitam di hatinya. Jika ia sungguh-sungguh bertaubat, maka titik hitam itu akan hilang. Sebaliknya, jika ia melakukan dosa lain, maka akan muncul titik hitam lainnya, dan demikianlah seterusnya. Jika dosa yang telah dilakukannya begitu banyak, maka hati akan menjadi hitam sehingga hilanglah keinginannya terhadap kebaikan. Bahkan hati selalu condong ke arah kejahatan.
Hati yang hitam ialah hati yang menjadi gelap kerana dosa. Setiap satu dosa yang dilakukan tanpa bertaubat itu akan menyebabkan terjadinya satu titik hitam pada hati. Itu baru satu dosa. Maka bayangkanlah bagaimana pula kalau sepuluh dosa? Seratus dosa? Seribu dosa? Alangkah hitam dan kotornya hati ketika itu.
Hati yang kotor dan hitam akan menjadi keras. Apabila hati keras, kemanisan dan kelezatan dalam beribadah tidak dapat dirasakan. Ia akan menjadi penghalang kepada masuknya iman dan ilmu. Belajar sebanyak apa pun tidak akan masuk ke dalam hati, kalau pun kita faham, tidak ada daya dan kekuatan kita untuk mengamalkannya.
Allah berfirman yang bermaksud "Kemudian selepas itu, hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Pada hal antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir sungai daripadanya, dan ada pula antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya. Dan ada juga antaranya yang jatuh ke bawah kerana takut kepada Allah sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 74).
Begitulah Allah mendatangkan contoh dan menerangkan bahwa batu yang keras itu pun ada kalanya boleh mengalirkan air dan boleh terpecah kerana takut Allah. Oleh itu, apakah hati manusia lebih keras daripada batu hingga tidak boleh menerima petunjuk dan hidayah daripada Allah.
4. Cahaya dapat dipantulkan, yang memiliki dua kemungkinan, diteruskan ke dalam benda yang dikenainya atau sebagaian cahaya akan dipantulkan kembali. Hidayah juga memiliki dua kemungkinan. Pertama, hidayah itu akan diteruskan kepada orang-orang disekitarnya sehingga orang-orang tersebut juga merasakan hal yang sama. Kedua, hidayah itu sebagian akan dipantulkan, dengan kata lain hidayah itu mental begitu saja, karena orang yang diberi hidayah masih enggan dan merasa malu maupun tak mampu menjemput hidayah yang diberikah Allah. Dalam surat An-Nuur, Allah memberikan ilustrasi seorang hamba yang diberikan hidayah.
“Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca dan tabung kaca itu bagailkan bintang yang berkilauan, yang dinyatakan dalam minyak dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon Zaitun yang tumbuh tidak di tumur dan tidak pula di barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang dikehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nuur: 35)

Cahaya di atas cahaya, itulah perumpamaan Allah bagi hamba yang diberikan hidayah-Nya. Ia mendapatkan cahaya Allah berupa hidayah, dan ia pun memberikan cahaya itu kepada orang-orang disekelilingnya.
Ia yang mendapatkan cahaya Allah, perkataannya adalah mutiara cahaya yang ampuh menembus hati sanubari, ilmunya merupakan sebab hidayah bagi orang lain, dan kumpulan cahaya kebaikan yang senantiasa diteruskan pada orang-orang disekitarnya menjadikan dirinya memiliki pancaran sinar kebaikan baik di dunia, maupun di akhirat. Subhanallah.
Jadi..? mau mana? Tetap gelap kemudian tersesat atau memupuk asa untuk mendapatkan pancaran cahaya?
Sumber: 1. Karen E. Kalumuck (2000). Human body explorations: hands-on investigates of what makes us tick. Kendall Hunt. hlm. 74. ISBN 9780787261535. 2. Gregory Hallock Smith (2006). Camera lenses: from box camera to digital. SPIE Press. hlm. 4. ISBN 9780819460936. 3. Narinder Kumar (2008). Comprehensive Physics XII. Laxmi Publications. hlm. 1416. ISBN 9788170085928. 4. http://www.crayonpedia.org/mw/Sifat-Sifat_Cahaya_5.2 5. http://mediabelajaronline.blogspot.com/2010/03/pembiasan-cahaya.html 6. http://surgaholicers.wordpress.com/2011/04/17/ 7. http://syahmiaminbukhari.blogspot.com/2009/05/satu-titik-hitam.html
»»  READMORE...

Jumat, 04 Mei 2012

#Spirit Jumat# 27 April 2012

Hidup pada akhirnya adalah pandang memandang di antara kita, pantul memantul, untuk kita saling bercermin. Pada semua potret yang terpampang dalam layar hidup kita, ada pasang surut kesadaran utama: Bahwa Allah-lah Yang Maha Kuasa. Kita bisa merasakan pada hati yang paling dalam, bahwa kita hanyalah manusia. Maka Allah-lah muara terbaik dari segala keluh kesah kita. >>> 'Curhat'pada Allah melalui shalat dan doa adalah solusi terbaik untuk berkeluh kesah. ^^,
»»  READMORE...

#Spirit Jumat# 20 April 2012

Jadilah pribadi yang selalu berbahagia, dan selalu nikmati hari-hari dengan kelapangan dada. Kebahagiaan termurah yang dijual orang-orang berakal adalah meninggalkan apa saja yang tidak bermanfaat baginya. Sedangkan komoditas paling mahal di dunia adalah ketika kita bersikap ramah kepada orang lain, dan mereka pun kepada kita.
»»  READMORE...

#Spirit Jumat# 13 April 2012

Akhir hidup kita adalah awal kehidupan yang sebenarnya. Miliki visualisasi masa depan yang lebih pasti. Rasakan seolah surga terhampar di pelupuk mata. Agar tak berlama-lama menunda amal shaleh meskipun hanya sedekah sederhana. Rasakan beratnya siksa neraka begitu dekat terbayang di pelupuk mata. Agar tak berusaha mencoba ataupun bermain-main guna mencicipi manisnya kemaksiatan di dunia. >>> Bertebaranlah di muka bumi untuk menebar kebajikan.
»»  READMORE...

#Spirit Jumat# 4 Mei 2012

Maknailah setiap langkahmu. Antara tidur dan terjagamu. Antara marah dan sabarmu. Manusia selalu melihat apa yang kau kerjakan, bukan yang kau angankan. Tapi Allah melihat proses, bagaimana kau mengerjakan. "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan"
»»  READMORE...

Yakin pada Allah

Tahukah kamu siapakah yang menurunkan hujan itu? Yang menurunkan hujan itulah Dzat yang akan memberikan pertolongan kepadamu. Dia yang membukakan pintu rizqi kepadamu. Dia yang akan menjaga dan melindungimu. Jika engkau masih saja meragukan kekuasaan Allah, maka, mari simaklah cuplikan Surat An-Nahl berikut ini. 65. Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). 66. Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. 67. Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. 68. Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia", 69. kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. 70. Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. 71. Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah 72. Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?" Jika engkau khawatir sesuatu yang buruk akan menimpamu, dengan mengesampingkan kekuasaan Allah yang akan menolongmu, maka itulah akan akan terjadi. “Sesungguhnya Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu” (Hadits) Yakinlah pada kekuasaan Allah. Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqoroh: 186) Yakinlah pada Allah. Setelah berusaha dan berdoa, maka selanjutnya bertawakkallah pada Allah swt. Tunggu Allah yang mengeksekusi hasilnya..
»»  READMORE...

Selasa, 01 Mei 2012

Kekuatan untuk Keberuntungan

"Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah. Dan bersemamgatlah kalian dalam mencari apapun yang bermanfaat bagi kalian." (Hadits) Rasulullah dalam masa hidupnya sungguh spektakuler dalam meraih kesuksesan dan prestasi yang demilang dalam menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. Mulai dari dakwah sembunyi-sembunyi dimana Rasulullah saw hanya memiliki puluhan pengikut. Kemudian berkembang menjadi 316 pengikut pada saat perang Badar. Setahun setelah itu berkembang menjadi 700 umat Islam, kemudian 1000, 3000, dan hingga saat ini jumlah umat Islam sangat berkembang pesat. "Qod aflahal mukminun" (QS. Al-Mukminun:1) - Sungguh beruntung oarng-orang mukmin- Dalam ayat tersebut, definisi beruntung ada 3 hal: 1. Meraih apa yang diinginkan 2. Mengungguli apa yang dicapai orang lain --> karena ia memiliki kekuatan dan kompetensi 3. Hidup bahagia Maka, jika ketiga definisi tersebut disimpulkan definisi orang yang beruntung adalah Sungguh apa yang dicita-citakan akan tercapai yaitu dengan mengungguli apa yang dicapai orang lain karena ia memiliki kekuatan dan kompetensi sehingga hidupnya bahagia. -Kajian @Masjid AlFalah Senin, 30 April 2012.
»»  READMORE...

#Spirit Jumat# 6 April 2012

"Sungguh menakjubkan perilaku orang mukmin. Semua keadaan adalah baik baginya. Jika memperoleh kesenangan ia bersyukur, dan yang demikian itu adalah baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan yang demikian itu lebih baik baginya. Perilaku seperti itu hanya ada pada diri seorang mukmin." (HR. Muslim & Ahmad) >>> Semoga syukur senantiasa menghiasi kehidupan kita. SEMANGKA..!! - Semangat Kawan ^^,
»»  READMORE...

Dia yang Ku Suka, Tapi Tidak Ku Cinta

Seperempat hari bersamanya, Semakin dilihat semakin terpikat Semakin dipandang semakin terpesona Semakin jeli memperhatikan semakin suka Suka.. suka.. hmm… suka sekali dengannya. Kupalingkan wajah ini pada objek lainnya, Kemudian kubayangkan lagi dia, Yang telah membuatku sangat suka padanya. Kuingat setiap bagian lekuk tubuhnya Matanya, telinganya, kepalanya, tangannya, perutnya, kakinya, Warna kulitnya, gerak-gerik tubuhnya, semuanya. Lalu ku coba meredefinisikannya. Kupejamkan mata erat-erat. Semakin membayangkannya, Semakin suka. Ah… rasa suka ini.. kenapa begitu saja muncul. Apakah ini cinta??? Cinta…?? Oh tidaak… Apakah aku sedang jatuh cinta? Cinta pada dia yang ku suka? Hmm… jatuh cinta,, Kenapa harus jatuh karena cinta??? Apakah cinta timbul karena suka?? Begitukah? Cinta.. cinta.. Banyak orang dibuat gila karena cinta Banyak orang putus asa karena cinta Banyak orang bunuh diri pun karena cinta Cinta membuat orang buta, Melakukan segala cara untuk mendapatkan yang dicinta Oh tidaak…. Tidaak… Sepertinya banyak orang terlalu cepat mengambil kesimpulan Bahwa suka = cinta Apakah iya suka itu adalah cinta? Tapi.. aku tidak merasakannya.. Aku hanya suka. Suka, sekedarnya. Ya, semacam simpati, ngefans, dan lain sebagainya. Suka.. ya itu dia. Bukan cinta. Aku suka sekali sekali padanya. Dan.. Dia yang ku suka, Tapi bukan yang kucinta, Dia adalah Panda. ^^,
*Akhir April 2012, ide didapatkan saat berkendara pulang ngelesi di deltasari.
»»  READMORE...

Rabu, 14 Maret 2012

MENDIDIK ANAK MENJADI PENGUSAHA

By: Ustadz Yusuf Mansur @ Wisata Hati ANTV

Kita tak akan tahu kapan malaikat maut menjemput kita menghadap Rabb semesta alam. Oleh karena itu sebagai orang tua hendaklah takut meninggalkan keturunannya dalam keadaan yang lemah dan khawatir akan kesejahterannya. Seperti dalam firman Allah swt:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An-Nisa : 9)

Salah satu cara mendidik anak yang sangat dianjurkan adalah mendidik mereka dengan tradisi menjadi pengusaha. Saat ini, pendidikan di Indonesia malah menjadikan seoarang anak menjadi seoarang pekerja, bukan menjadi pengusaha. Hal ini terbukti dari ucapan-ucapan yang secara tidak langsung berpengaruh pada mindset seorang anak. Misalkan kamu harus pintar supaya nanti bisa bekerja di perusahaan terkenal dan punya gaji banyak atau jangan jualan di sekolah ya Nak, Ibu malu kamu jualan di sekolah, kayak ibu sama bapakmu ini ndak mampu membiayai sekolahmu saja. Hmmm…. Inilah pendidikan yang salah kaprah. Mendidik anak menjadi seorang pengusaha membuat seorang anak lebih percaya diri dalam bergaul dengan siapa pun, mudah bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, membuat anak lebih mandiri dan tidak lagi tergantung pada orang tuanya.

Mari belajar dari Rasulullah saw, Nabi akhir zaman yang sejak kecil telah ditempa dengan pendidikan berdagang. Sejak kecil Rasulullah telah dididik supaya memiliki sifat tanggung jawab. Hal ini dilakukan dengan diberikannya tanggung jawab berupa hewan-hewan gembala yang harus setiap hari dirawat. Pagi hari dikeluarkan dari kandang, kemudian hewan-hewan itu digiring menuju padang rumput, sorenya kembali dipulangkan menuju kandangnya. Menginjak remaja, Rasulullah saw sudah diajak pamannya, Abu Thalib berdagang, di dalam negeri hingga ke luar negeri. Dengan berdagang itulah Rasulullah terkenal dengan gelarnya, Al-Amin, yang dapat dipercaya. Dari berdagang pula Rasulullah memiliki jaringan yang luas.

Mari belajar dari saudara kita keturunan Cina. Para orang tuanya mendidik anak mereka untuk ikut terlibat dalam proses usaha orang tuanya. Dapat kita temukan di took-toko, dimana sang anak, sambil membawa buku sekolahnya ikut memberikan pelayanan kepada para pembeli di tokonya, atau menjadi kasir di tokonya. Mereka telah berhasil mengesampingkan perasaan minder. Maka, ketika sang anak telah beranjak dewasa, sang anaklah yang menggantikan posisi orang tuanya. Coba simak cerita para pengusaha yang disuguhkan Jawa Pos dalam bab Metropilis kolom pengusaha-pengusaha. Perusahaan-perusahaan mereka (orang-orang Cina) telah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan. Mulai dari nenek moyang hingga cucu mereka. Lihat saja jamu Nyonya Meneer, atau show room mobil ataupun motor, dan sebagainya.

Oleh karena itu, dididiklah anak menjadi pengusaha. Bagaimana caranya? Bekali dengan modal yang cukup dan ilmu berdagang. Orang tua juga dapat membantu anak memproduksi barang dagangan. Misalnya sang ibu membantu membuatkan donat/roti, kemudian meminta sang anak menitipkan ke warung-warung. Atau sang ayah mengajak sang anak ke took grosir (Tanah Abang, Mangga Dua – Jakarta; PGS, DTC – Surabaya) kemudian membelikan barang-barang yang biasa dibutuhkan anak-anak seusianya, seperti kaos kaki, alat tulis, dsb. Tanamkan pada diri sang anak, bahwa ia pasti bisa menjadi pengusaha, bisa menjual barang dagangannya habis terjual. Sebelum berangkat berjualan, himbau sang anak untuk menghadap pada Sang Khalik Yang Maha Pemberi Rizqi, ajaklah sang anak menegakkan shalat dhuha, bermunajat pada Allah, memohon supaya dagangannya laris.

Jika sang anak kembali pulang membawa uang yang besarnya lebih kecil dari uang yang dikeluarkan untuk modal, hendaklah para orang tua membesarkan hati sang anak, bukan malah dimarahi atau dicerca. Para orang tua harus menghargai apa yang telah dilakukan sang anak. Dalam pembelajaran, yang sangat dipentingkan adalah prosesnya, yaitu bagaimana sang anak berusaha membuat diri percaya diri, yakin, dan mampu menjual barang dagangannya. Karena menjadi pengusaha tidak langsung harus modal kembali, semua butuh proses, dan proses itulah yang secara perlahan akan membuat sang anak paham dan memiliki pengalaman untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Selamat mendidik anak menjadi pengusaha.

**Note: hal ini berlaku pula untuk para mahasiswa, sudah saatnya bukan lagi bermetal pekerja, namun bermental pengusaha. Saatnya membuka lapangan kerja, bukannya berdiri mengantri mendaftarkan pekerjaan pada perusahaan milik negara, ataupun milik swasta.

_JSR_130312.
»»  READMORE...

MODAL DZIKIR: DORONG GEROBAK (PART 1)

Jadi security selama 7 tahun hidup gak ada perubahan. Punya warung, sudah puluhan tahun jadi penjual nasi tapi hidup gitu-gitu aja. Jadi tukang sapu jalanan tapi hidup bagai angin lalu. Atau jadi mahasiswa, sudah keluar banyak biaya, waktu dan tenaga tapi ujung-ujungnya jadi pekerja kantoran yang gajinya gak seberapa atau bahkan malah jadi pengangguran. Mengapa hal itu terjadi??? Karena hidup kita banyak kosongnya. Maksudnya kita kurang bisa memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat.

Apapun profesinya, sebenarnya seseorang memiliki banyak waktu luang. Bagaimana waktu itu dihabiskan, tergantung pada individu masing-masing. Ada 3 waktu luang yang dimiliki semua orang, yaitu ketika berangkat kerja, istirahat, dan pulang kerja.
Banyak orang yang berangkat kerja naik motor, mobil, atau angkutan umum seperti kereta api, bus way, atau bajay yang membiarkan perjalanan dengan hal yang sia-sia. Mengobrol kemana-mana atau bahkan sampai membicarakan orang lain, mendengarkan music dari mp3 hp ataupun radio, melihat pemandangan jalanan yang padat merembat oleh berbagai macam sarana transportasi atau hilir mudik orang yang bergegas menuju tempat bekerja masing-masing.

Saudaraku, jangan lewatkan waktumu berlalu begitu saja. Manfaatkan waktu yang ada dengan banyak berdoa, dzikir, bershalawat. Sebagai apapun, dimanapun, dan kapanpun, isi waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat. Sesungguhnya jika kita tidak disibukkan dengan mengerjakan hal-hal kebajikan, maka kita akan disibukkan dengan mengerjakan keburukan. Naudzubiilah.
Sebagai seorang security yang bekerja mengontrol situasi kantor, sebagai seorang pengumpul batu yang setiap hari mendorong gerobak berisi batu dari rumah menuju tempat pengumpul batu, sebagai tukang potong rumput, sambil berjualan nasi uduk, sambil berjualan baju keliling. Maka manfaatkan waktu dengan senantiasa menyelingi dengan bershalawat. Mulut mengucapkan dzikir sehingga otak pun mudah berpikir.

Hidup akan penuh berkah jika dalam sehari hidup kita penuh dengan berdzikir pada Allah swt. Pagi hari, diawali dg basmalah, kemudian shalat subuh berjamah. Dhuhur, ashar magrib, isya pun berjamaah, sebelum tidur ditutup dg witir, maka sepanjang hari penuh dg berdzikir.

QS. Ali Imron 189-194
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji."

***140312_BERSAMBUNG
»»  READMORE...

Selasa, 14 Februari 2012

RESUME KAJIAN Kitab AT-TIBYUN FII ADABI HAMALATIL QUR’AN

Bersama Ustadz Mudawi (Senin, 13 Februari 2012 @ Griya Qur’an )

Apa itu Kitab At-Tibyan Fii Adabi Hamalatil Qur’an?
At-Tibyan berasal dari kata Bayyana, Yubayyinu yang artinya menjelaskan, dan At-Tibyan artinya penjelasan. Fii memiliki arti dalam, Adabi artinya etika, tata karma, dan Hamalatil Qur’an artinya pembawa Qur’an. Nah, siapakah yang dimaksud dengan pembawa Qur’an? Pembawa Qur’an yang dimaksud adalah para penghafal Al-Qur’an. Jadi, Kitab At-Tibyan Fii Adabi Hamalatil Qur’an merupakan sebuah kitab yang memberikan penjelasan mengenai etika para penghafal Qur’an. Kitab ini merupakan kitab rujukan umat Islam di seluruh penjuru dunia, yang ditulis oleh Imam Nawawi.

Bab 1: Athroofi Min Fadhiilatin Tilaawatil Qur’an Wa Hamalatihi (Keutamaan Tilawah Qur’an dan Penghafal Qur’an)
Seperti yang kita tahu, firman Allah swt yang pertama kali turun adalah Iqro’ (bacalah), lengkapnya Iqro bismirobbikalladzii kholaq (Bacalah dengan nama Tuhanmy yang menciptakan). Dalam hal membaca Al-Qur’an, terdapat dua istilah yang telah kita kenal, yakni tilawah dan qiro’ah. Apakah perbedaan antara keduanya? Tilawah adalah membaca Al-Qur’an secara berkesinambungan atau terus menerus. Sedangkan Qiro’ah adalah membaca dengan teliti. Nah, sebagai penghafal Qur’an, kita harus melakukan keduanya, baik tilawah maupun qiro’ah, yakni membaca dengan pemahaman yang mendalam secara terus menerus.

Masuk pada pembahasan bab satu mengenai keutamaan membaca Al-Qur’an secara terus-menerus dan penghafal Qur’an. Keutamaan pertama, yakni Allah swt akan menyempurnakan pahalanya dan akan menambah karunia-Nya. Coba cermati surat Fatir (35) ayat 29 dan 30 berikut.

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat, menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima Syukur.”

Dalam ayat tersebut, terdapat kriteria orang-orang yang akan disempurnakan pahalanya dan ditambah karunianya, yaitu orang yang membaca Al-Qur’an secara terus menerus, orang yang melaksanakan shalat, dan orang yang menginfakkan harta di jalan Allah swt. Namun tidak serta merta Allah akan memberikan ganjarannya. Ada satu lagi syarat yang harus dipenuhi, yaitu IKHLAS. Bagaimanakah orang yang IKHLAS itu? Allah menerangkan dalam ayat yang sama, yaitu orang yang melaksanakan ketiga kriteria tersebut baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Jadi oarng yang ikhlas itu harus seimbang amalnya, tak hanya ketika terlihat saja beramal namun ketika sembunyi-sembunyi juga tetap beramal.

Simak kisah Abu Hurairah berikut.
Suatu ketika Abu Hurairah sedang melaksanakan shalat. Kemudian ada tamu yang masuk dan melihat Abu Hurairah sedang shalat. Abu Hurairah merasa senang sekali, ketika ia shalat ada orang yang melihatnya. Namun kesenangan Abu Hurairah tak berlangsung lama karena ia tak hentinya memikirkan kejadian tersebut, khawatir pada saat itu ia shalat dengan riya’. Tak tahan dengan pikiran yang menganggunya, ia pun segera menemui Rasulullah saw untuk mengadukan perihal kekhawatirannya. Menjawab persoalan Abu Hurairah, Rasulullah saw pun berkata, “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya atas pelaksanaan shalat itu kamu telah mendapatkan dua pahala, yaitu pahala ketika kamu melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi dan pahala ketika kamu melaksanakan shalat secara terang-terangan.”

Sesungguhnya batas antara ikhlas dan riya’ memang tipis, maka patutlah bagi kita untuk berhati-hati dan senantiasa memuhasabah diri. Apakah ibadah yang kita lakukan sudah ikhlas hanya karena Allah swt atau hanya semata-mata karena untuk dipuji manusia, Na’udzubillah. Kembali pada topik bahasan pada bab 1. Orang-orang yang membaca Al-Qur’an, melaksanakan shalat, dan menginfakkan harta, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka itulah yang mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi. Dengan siapakah kita melakukan perniagaan yang akan tidak rugi? Yup. Hanya dengan Allah swt. Allah telah membeli diri dan harta orang mukmin seharga surga. Subhanllah. Sebagaimana dalam firman Allah berikut.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka” (QS. At-Taubah: 111)

Jika ingin mendapatkan surga, maka lakukanlah perniagaan dengan Allah swt. Sebagai seorang mukmin, kita harus bisa menjual diri kita supaya menjadi pribadi berkualitas yang memenuhi kriteria tersebut. Jual diri kita dengan amal-amal unggulan, maka Allah swt akan membeli diri kita dengan balasan surga, Insya Allah. Hindari jiwa-jiwa NGALEM POLL (NGAntukan, Lemah, sEdih, Males, Putus asa, Lemot, Letoy). Karena hal-hal semacam itulah yang membuat kita tidak melakukan perniagaan dengan Allah swt.

Keutamaan kedua adalah menjadi sebaik-baik manusia.
Diriwayatkan dari Utsman bin Affan RA, Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Muslim dan Imam Ahmad)
Nah, menjadi seorang santri (murid) Qur’an menjadikan kita sebaik-baik manusia. Maka jika sedang belajar Al-Qur’an, tetaplah istiqomah mempelajarinya. Bagi muslim/muslimah yang belum tertarik mempelajari Al-Qur’an, jangan tunggu nanti saat usia sudah lanjut. Khawatir maut keburu menjemput. Karena kita tak tahu hingga kapan kita berada di dunia yang hanya panggung sandiwara ini.

Keutamaan ketiga adalah akan dijaga para malaikat yang mulia dan senantiasa berbakti pada Allah swt.

Dari Aisyah RA berkata, Rasulullah saw bersabda “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir (karena kekuatan hafalannya) adalah akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya. “ (HR Bukhori-Muslim)

Subhanallah. Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama dengan para malaikat Allah swt. Bagi muslim/muslimah yang masih terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an maupun menghafal Al-Qur’an, tetaplah istiqomah melakukannya. Secara terus-menerus lagi berkesinambungan melakukan tilawah dan muroja’ah supaya hafalan bertambah, pahala pun berganda.

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.” (QS. Al-Kahfi: 103-108)

Orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, merekalah orang-orang yang merugi. Mereka menyangka telah berbuat baik namun ternyata sia-sia amalannya selama di dunia. Orang yang kufur termasuk di dalamnya orang yang tidak membaca Al-Qur’an, tidakberusaha mempelajari serta tidak mengamalkannya. Maka berbanggalah bagi muslim/muslimah yang mahir membaca Al-Qur’an (hafalannya kuat) maupun yang sedang berusaha belajar Al-Qur’an. Mungkin, saat ini kesulitan demi kesulitan datang mendera saat berusaha menghafalkan kalam Ilahi. Namun, tetaplah yakin, bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Seperti dalam surat Al-Insyirah.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Inyirah: 5-6)
Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Pernyataan tersebut diulang dua kali hal ini (dalam hal mempelajari Al-Qur’an - menurut Rasulullah) sesungguhnya kesulitan yang kita hadapi saat membaca Al-Qur’an hanyalah sekali saja, yaitu kesulitan di dunia. Sedangkan kemudahan ada dua, yakni kemudahan di dunia amaupun di akhirat. Kemudahan di dunia maksudnya, Allah akan senantiasa memberikan pertolongan bagi siapa saja yang membaca Al-Qur’an. Sedangkan kemudahan di akhirat adalah pada saat nanti di akhirat bacaan Al-Qur’an kita diujikan, kita akan kagum dengan kemampuan kita karena pada saat itulah diberikan kemudahan membaca Al-Qur’an.

*****

Sesi Tanya Jawab

1. Menghafal Al-Qur’an mencegah dari kepikunan.
Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dengan penuh keberkahan untuk dipahami dan mudah diingat. Definisi pikun adalah tidak mengetahui apa yang dulu pernah diingat. Berbeda dengan lupa. Semua manusia pasti pernah lupa. Kalau misalnya Anda mencari dan bertanya kepada keluarga Anda, dimana kacamata Anda padahal kacamata itu sedang Anda pakai. Itu berarti lupa. Jika kita mengalami kecelakaan atau kepala kita terbentur sesuatu kemudian kita tidak bisa mengingat hal-hal yang dulu pernah dilakukan, itu merupakan pikun. Allah swt akan memberikan kepada tiap hambanya suatu rentang usia dimana ia mengalami kepikunan. Kecuali bagi para penghafal Al-Qur’an. Karena para penghafal Al-Qur’an juga turut menjaga kemurnian kalam Ilahi, maka Allah swt pun turut memberikan penjagaan nikmat bagi para penghafal Al-Qur’an.

Berbicara mengenai nikmat pemberian Allah swt.
Allah telah mencurahkan banyak sekali nikmat pada hamba-hamba-Nya. Nikmat yang paling mahal harganya adalah nikmat iman, Islam, dan sehat. Lalu, bagaimana kita menjaganya? Ingat lagu Tombo Ati? Yang salah satunya adalah berkumpullah dengan orang-orang shaleh. Ya, nikmat iman dan Islam dapat dijaga dengan berada pada komunitas-komunitas yang senantiasa mendekatkan diri kita pada Allah swt. Komunitas dimana kita dapat senantiasa tolong-menolong, serta saling menasehati dalam kebaikan, kebenaran, dan ketaqwaan. Sedangkan nikmat sehat dijaga dengan mengikuti sunnah Rasulullah saw. Tidak makan dan minum secara berlebihan, yang diimbangi dengan puasa. Karena tidak ada obat dari penyakit kolesterol, asam urat, darah tinggi, stroke, dan penyakit-penyakit lainnya kecuali dengan berpuasa. Rasulullah saw bersabda, “Puasalah. Pasti kamu akan sehat” . Dalam riwayat lain, Rasulullah saw juga bersabda “sebaik-baik puasa adalah puasa Daud” (Puasa-tidak puasa-puasa-tidak puasa-dst)

2. Tips Menghafal
a. Membaca berulang-ulang, sambil merenungi dan memahami maknanya sampai mendalam (sampai kita terenyuh, larut dalam makna-maknyanya). Ukuran ilmu yang bermanfaat itu ada di hati . seperti firman Allah swt.
(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka. (QS. Al-Hajj: 22)
b. Menuliskannya dikertas, membawaya kemana pun pergi kemudian membacanya ketika waktu luang. Metode inilah yang diterapkan sahabat Nabi ketika wahyu turun.

3. Membaca Al-Qur’an Di Angkutan Umum, Bolehkah?
Al-Qur’an merupakan kitab yang diturunkan kepada manusia untuk dijadikan pedoman hidup. Selayaknya kita membaca buku-buku umum, majalah, koran, dimanapun kita berada, yang kita pun tidak canggung ataupun malu membacanya, begitu pula kita pemperlakukannya untuk kitab kita, umat Islam, Al-Qur’an. Tak perlu ditutup-tutupi ataupun canggung. Malah kita harus berbangga, karena kitab Al-Qur’an lah satu-satunya kitab yang dijamin keasliannya dari awal diturunkan hingga akhir zaman (Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa-BQS Al Baqoroh: 2). Di dalam angkutan umum, boleh-boleh saja membaca Al-Qur’an. Memang di Indonesia aktivitas seperti ini belum mulai dibudayakan. Oleh karena itu, dengan kita membaca Al-Qur’an di angkutan umum atau dimana pun kita berada, kita juga turut mensyiarkan Islam di negeri kita.

***** _JSR_13022012.
»»  READMORE...

Senin, 13 Februari 2012

Belajar tak kenal Usia: Berlomba-lomba dalam kebaikan tuk mendapat tiket surga

Bismillahirrohmaaniirrohim
Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

(Sedikit share pengalaman hari ini)

Subhanallah, nikmat Allah sungguh tiada tandingannya. Meskipun hari ini aku hanya mengisi waktu enam jam di luar rumah, namun saat-saat itu sungguh sangat berarti. Diawali dengan mengantarkan adek ke sekolahnya di daerah Prapen. Kemudian kuarahkan laju Farnas ke daerah darmo, menuju rumah Allah yang berada di dekat Kebun Binatang Surabaya. Saat memarkir Farnas, sempat bertanya-tanya, sepagi ini parkiran sudah penuh..??? Subhanallah…. Oh.. mungkin ada pengajian habis subuh, makanya masih banyak motor di sini, pikirku dalam hati. Setelah selesai memarkir Farnas, kulangkahkan kaki ini menuju ruangan untuk jamaah putri.

Samar-samar dari bawah terdengar suara orang mengaji. Semakin keras nan jelas ketika kaki ini semakin mendekati sumber suara. Saat kaki tiba di anak tangga terakhir, terlihat jelas pemandangan yang membuatku takjub. Terdapat bundaran-bundaran kecil yang penghuninya para ibu-ibu dan nenek-nenek. Kutebarkan pandangan mataku menyapu sekeliling ruangan. Aku tidak menjumpai manusia seumuran dengan aku yang menjadi anggota bundaran itu. Subhanallah… hebat.. sungguh luar biasa. Di tengah kesibukan menjadi sosok ibu, yang memiliki seabreg pekerjaan, masih saja menyempatkan diri untuk belajar Kitabullah, pedoman hidup umat Islam. Tak terasa, rasa malu begitu mendalam begitu saja menyelimuti jiwaku. Kemana saja aku selama ini? Yang hilang di tengah kesibukan menjalankan amanah kuliah dan amanah organisasi, namun tak sempat banyak belajar agama. Baru di akhir-akhir semester saja ingat. Lamunanku buyar seketika ketika pandanganku tertuju pada jam dinding.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lewat enam menit. Aku harus bersegera menunaikan aktivitasku karena satu jam lagi harus berpindah ke tempat lain. Setelah kurampungkan aktivitasku, aku segera berkemas untuk meninggalkan tempat tersebut. Saat itu, tak sengaja terdengar sebuah pembicaraan antara dua orang ibu yang telah merampungkan ritual paginya. “Ibu ikut kelas apa di sini?” Tanya ibu berkerudung krem. “Saya ikut kelas tafsir yang satu minggu sekali Bu”, kata Ibu yang masih mengenakan rukuh berwarna putih. “Oh.. ndak ikut mengaji yang seperti ini Bu (sambil menunjuk bundaran kelompok mengaji ibu-ibu)?”. “Oh, iya, saya juga ikut, tapi baru kelas tartil Bu, belum yang tahfidz”. Deg.. Subhanallah….. untuk kedua kalinya aku takjub yang dibarengi rasa malu. Aku berulang kali beristighfar. Belajar memang tak pandang usia. Tua, muda, boleh belajar. Belajar apa pun itu. Baik belajar membaca tulisan latin (abcdefg sampai z), bahasa inggris, bahasa arab (bahasa Al-Qur’an), atau belajar yang lain.
Perjalananku selanjutnya adalah menuju jalan dinoyo nomor 83. Segera kuparkirkan Farnas di parkiran bengkel. Aku mempercepat langkah kakiku karena jam digital pada handphoneku menunjukkan pukul delapan lewat 13 menit. Terdengar suara beberapa orang melantunkan firman Allah surat AL-Insyiqoq. Baru kali ini aku memasuki rumah itu di pagi hari. Di depan pintu kelas, aku merasa bimbang, khawatir tidak ada satu orang pun yang kukenal. Tapi aku harus segera memasukinya dan bergabung dengan mereka. Pintu ku dorong ke depan, kemudian kuucapkan salam dengan lirih, sambil menyapu pandangan ke sekeliling ruangan. Subhanallah…. Untuk ketiga kalinya aku merasa takjub dan malu. Orang-orang yang duduk di majelis itu hamper semuanya sudah lanjut usia. Kira-kira usianya sekitar 50 tahun ke atas. Akulah satu-satunya orang termuda di majelis tersebut. Pembacaan surat Al-Insyiqoq berakhir. Dilanjutkan dengan setoran hafalan. Ibu yang ditunjuk pertama kali membacakan surat Al-Baqoroh halaman ke dua dan ke tiga. Dilanjutkan dengan nenek-nenek yang mungkin usianya sudah 70tahunan. Beliau membacakan surat Al-Ghasyiyah. Kemudian Ibu berkerudung coklat dan berkaca mata. Beliau membacakan juz 2 (aku kurang tahu halaman berapa). Selanjutnya nenek yang enerjik, berbaju kuning. Beliau hamper saja menamatkan juz 30 dengan membaca surat-surat pendek bagian akhir. Kemudian seorang pensiunan puskesmas, yang juga seorang dokter gigi berusia 64 tahun. Beliau duduk tepat di sebelahku. Beliau membaca surat Al-Buruuj. Urutan selanjutnya aku. Kemudian ibu di sebelah kananku melanjutkan setoran dengan membaca surat Al-‘Alaq. Selanjutnya Ibu berbaju coklat, membaca surat At-Takatsur. Kemudian urutan terakhir adalah seoarng ibu muda yang sepertinya blasteran Arab (terlihat dari wajahnya yang putih, mancung) beliau membaca surat Al-Baqoroh halaman 4. Hingga akhir kelas, aku sungguh takjub. Semangat dan kemauan para peserta majelis tersebut yang rata-rata tergolong lansia sungguh patut diacungi jempol.

Selanjutnya perjalananku menuju jalan yang sama di nomor 53. Saat memasuki ruang utama, terlihat puluhan ibu-ibu telah menjejali ruangan itu. Terlihat pula dua orang bapak, satu kakek, dan sekitar empat pemuda turut menghadiri majelis yang akan membahas sebuah kitab. Pada majelis itu, keempat kalinya aku takjub dan malu. Majelis itu hamper didominasi ibu-ibu berusia tiga puluhan ke atas. Kemana para pemuda-pemudinya yaa..??? pikirku. Hmm…. Aku jadi memuhasabah diri. Apakah memang sudah menjadi tren, belajar mengaji dan menghadiri majelis-majelis ilmu dilakukan saat usia sudah mendekati batas akhir maut menjemput? Padahal kita tak tahu kapan kita dijemput malaikat Isrofil. Hikmah lain yang hari ini kudapat adalah berlomba-lomba dalam menumpuk pahala menuju tiket surga tak kenal usia. Surga diperebutkan oleh semua orang berapa pun usianya di seluruh penjuru dunia. Bagaimana denganku? Bagaimana dengan umat Islam yang lain? Pantaskah kita mendapatkan tiket menuju istana akhirat yang dijamin kesejahteraannya..? sudahkah kita memiliki amal unggulan untuk bersanding dengan hamba-hamba yang Mulia, Rasulullah saw, para Nabi dan Rasul, keluarga, para sahabat, para syuhada yang gugur di medan perang? Mari berfastabikul Khairat..

___JSR_13022012
»»  READMORE...
') }else{document.write('') } }