Assalamu'alaykum... Selamat datang di blog saya..

Muslimah

Muslimah

Senin, 31 Oktober 2011

Ketika Eksistensi Pemuda Indonesia Dipertanyakan

Wahai para pemuda,
baik pria maupun wanita
Banyak orang bertanya,
di mana gerangan kau berada?

Setelah terbentuknya organisasi pemuda pertama,
setelah tertoreh sumpah pemuda,
setelah penculikan bung karno dan bung hatta,
setelah Indonesia merdeka,
setelah para penjajah enyah dan sirna,
setelah tergulingnya rezim orba,
setelah pemerintahan habibie, gus dur, hingga ibu mega,

Di manakah dirimu wahai pemuda?
Yang kini menjadi damba,
di hati masyarakat yang hampir putus asa
Bosan atas suguhan media
yang menyoroti pemerintahan membabi buta

Ibu pertiwi tlah lama lara
karena dirundung duka
para penduduknya hanya bisa berdoa
semoga Indonesia segera merdeka

Yaa.. merdeka.. untuk kesekian kalinya
Di mana tak ada orang dalam penjara,
pemudanya bebas dari narkoba
pemerintahan bebas dari korupsi yang tlah membudaya
pendidikan dan kesehatan pun bebas pungutan biaya

Di manakah para pemuda?
Yang tak hanya terdiri dari mahasiswa
yang sudah lulus lagi kaya
juga yang sudah berada
Jika merasa umur kalian masih muda
Jangan gadaikan idealisme sewaktu mahasiswa

Di manakah para pemuda?
Pemuda yang siap berjuang di medan laga
Layaknya besi yang siap tempa
Saat ini.. dibutuhkan cendekiawan muda
Yang tak hanya mampu beretorika
Yang mampu melakukan aksi nyata

Berbeda organisasi tak mengapa
Yang penting tetap profesional bekerja sama
Tetap dalam kerangka negara
yang menjunjung Bhineka Tunggal Ika
Tak perlulah saling curiga
Karena kita sama-sama manusia
Yang ada karena Sang Maha Pencipta

Wahai para pemuda
Marilah berhimpun bersama
Memiliki orientasi dan persepsi yang sama
Berjuang membangun karya
Berupaya bersama 23 instansi negara
Tak hanya dengan kemenpora
Tapi juga dengan kementrian lainnya

Ketika melakukan aksi nyata
Tak perlulah memikirkan hal-hal dunia
Tak perlu takut pada para penguasa
Apalagi menunggu turunnya dana
Mari membangun mental wirausaha
Untuk pribadi pemuda yang lebih mulia
Yang berdaya saing dan peduli sesama

***********JSR 11.04
Ringkasan Talkshow dan Workshop Kepemudaan
(31 Oktober 2011 @ Gramex)
»»  READMORE...
»»  READMORE...

Minggu, 30 Oktober 2011

'Ia' Membuatku Sesak Di Dada

Awalnya, aku tak kenal dengan'nya'.
'Ia' yang membuat banyak orang
malas dan patah arang.
Namun sekarang,
'Ia' mulai melakukan sepak terjang

Aku pun tak bisa lagi menawar.
'Ia' mendekat dan semakin menjalar,
memasuki alam bawah sadar
menyelinap di rongga-rongga tubuh
bersatu dengan aliran darah
dan jadilah..

'Ia' menjadi berkuasa
bersemayam di dalam dada
meracuni segala yang ada
hingga membuat surut aksi nyata

Yaa Rabb Yang Maha Pemelihara
Berikanlah pentunjuk kepada hamba
supaya hamba tak putus asa
sehingga tergerak lagi berjuang di medan laga,
panggung sandiwara dunia..

Kau tahu?
'Ia' dengan biasa membunuh
semangat dan tindakan yang dalam kondisi penuh
'Ia' adalah sebuah kata: "JENUH"

*****JSR_ahAD 301011:06.40
»»  READMORE...

Minggu, 23 Oktober 2011

Matahari ada dicerca, Hujan tiba pun dihina


Beberapa hari ini,
Surabaya terasa bagai Padang Sahara,
Matahari pun dicerca,
Bagai orang yang banyak dosa,
Banyak manusia berdoa,
Semoga hujan segera tiba.


Namun ketika hujan tiba,
Banjir melanda,
Penyakit-penyakit merajalela,
Diare, demam berdarah, malaria,
Keberadaan hujan pun dihina
Manusia pun meminta,
Semoga hujan segera reda,


Hmm... manusia-manusia,
Tak adakah yang bersyukur atas rahmat-Nya?
Sesungguhnya,
Allah lebih tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya,
So... Tunggu saja tanggal mainnya.
»»  READMORE...

Senin, 25 April 2011

BERDERMA TANPA MENJARAH (TUKANG BECAK: SANG PEMBERI KETELADANAN)

Diceritakan ulang dari majalah Integrito, Vol 14/IV, Edisi Januari-Februari 2011



Maraknya sosok pahlawan yang muncul tiba-tiba dengan kedok dermawan seringkali kita jumpai di masyarakat. Ia pun mendadak menjadi sosok teladan dan terhormat. Namun tak disangka, harta yang didermakan itu hasil korupsi dan kejahatannya pada negeri ini. Para koruptor itu membalut kejahatannya dengan bungkus kepedulian. Padahal dalam agama diajarkan bahwa rezeki yang diperoleh haruslah halal (baik). Setiap perbuatan pasti akan dipertanggungjawabkan, walaupun sekecil biji sawi. Pertanyaan yang akan didapatkan adalah dari mana harta tersebut diperoleh dan untuk apa dihabiskan? Kisah berikut mengajarkan pada kita bahwa berderma tidak perlu dengan melakukan cara haram dan berderma pun tidak selalu ketika kita memiliki banyak harta.

Bai Fang Li, seorang lelaki dari negeri tirai bamboo, yang memiliki rutinitas mengayuh becak. Pekerjaan rutinnya ini hanya memberikan Bai Fang Li pendapatan yang minim. Hidupnya sederhana. Ia tinggal di sebuah gubuk di kawasan Tianjin, Cina yang jauh dari kesan mewah. Ia pergi di saat mentari bersinar di pagi hari dan pulang saat mentari kembali ke peraduannya. Dengan sabar dan telaten ia mengayuh becaknya, mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya.

Begitulah, dengan kondisi yang apa adanya, Bai Fang Li berupaya mengumpulkan sedikit demi sedikit uang hasil keringatnya untuk berderma. Ia rela mengais makanan sisa supaya ia bias menyumbangkan uangnya pada sebuah yayasan panti asuhan yatim piatu. Ia mulai melakukannya pada tahun 1986. Ia tak mengharap apapun dari yayasan tersebut. Ia pun tak tahu siapa saja anak yang menikmati uang sumbangannya. Yang dia tahu bahwa anak-anak yang ada di yayasan tersebut butuh uluran tangan darinya.

Pada tahun 2001, kala itu usia Bai Fang Li mencapai 91 tahun, ia datang ke yayasan tersebut dengan kondisi sangat lemah. Ia mengatakan pada pengurus yayasan bahwa ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu, ia membawa sumbangan terakhirnya berupa uang 500 yuan yang setara dengan Rp 675.000,00. Dengan uang sumbangan terakhir itu, genaplah sumbangannya pada yayasan sebesar 350.000 yuan, yang setara dengan Rp 472,5 juta. Pada tahun 2005, Bai Fang Li meninggal dunia akibat terserang penyakit kanker paru-paru. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya telah memberikan sumbangan pada yayasan tersebut.

Bai Fang Li telah pergi selamanya. Ia pergi dengan meninggalkan banyak hal. Semangatnya untuk berderma dan kerja kerasnya dalam bekerja. Banyak penghuni yayasan yang merasa kehilangan sosok Bai Fang Li. Bukan hanya karena uang sumbangannya, namun karena sosok yang rela berderma tanpa pamrih di tengah kesederhanaan hidupnya. Meski hidup dari mengayuh becak, ia punya kepedulian sangat tinggi kepada nasib orang lain yang dianggap tidak seberunyung dirinya. Berderma tanpa pamrih dengan cara yang halal pula….
»»  READMORE...
') }else{document.write('') } }