"Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah. Dan bersemamgatlah kalian dalam mencari apapun yang bermanfaat bagi kalian." (Hadits)
Rasulullah dalam masa hidupnya sungguh spektakuler dalam meraih kesuksesan dan prestasi yang demilang dalam menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.
Mulai dari dakwah sembunyi-sembunyi dimana Rasulullah saw hanya memiliki puluhan pengikut. Kemudian berkembang menjadi 316 pengikut pada saat perang Badar. Setahun setelah itu berkembang menjadi 700 umat Islam, kemudian 1000, 3000, dan hingga saat ini jumlah umat Islam sangat berkembang pesat.
"Qod aflahal mukminun" (QS. Al-Mukminun:1)
- Sungguh beruntung oarng-orang mukmin-
Dalam ayat tersebut, definisi beruntung ada 3 hal:
1. Meraih apa yang diinginkan
2. Mengungguli apa yang dicapai orang lain --> karena ia memiliki kekuatan dan kompetensi
3. Hidup bahagia
Maka, jika ketiga definisi tersebut disimpulkan definisi orang yang beruntung adalah Sungguh apa yang dicita-citakan akan tercapai yaitu dengan mengungguli apa yang dicapai orang lain karena ia memiliki kekuatan dan kompetensi sehingga hidupnya bahagia.
-Kajian @Masjid AlFalah Senin, 30 April 2012.
»» READMORE...
Muslimah
Selasa, 01 Mei 2012
#Spirit Jumat# 6 April 2012
"Sungguh menakjubkan perilaku orang mukmin.
Semua keadaan adalah baik baginya.
Jika memperoleh kesenangan ia bersyukur,
dan yang demikian itu adalah baik baginya.
Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar,
dan yang demikian itu lebih baik baginya.
Perilaku seperti itu hanya ada pada diri seorang mukmin."
(HR. Muslim & Ahmad)
>>> Semoga syukur senantiasa menghiasi kehidupan kita.
SEMANGKA..!! - Semangat Kawan ^^,
»» READMORE...
Dia yang Ku Suka, Tapi Tidak Ku Cinta
Seperempat hari bersamanya,
Semakin dilihat semakin terpikat
Semakin dipandang semakin terpesona
Semakin jeli memperhatikan semakin suka
Suka.. suka.. hmm… suka sekali dengannya.
Kupalingkan wajah ini pada objek lainnya,
Kemudian kubayangkan lagi dia,
Yang telah membuatku sangat suka padanya.
Kuingat setiap bagian lekuk tubuhnya
Matanya, telinganya, kepalanya,
tangannya, perutnya, kakinya,
Warna kulitnya, gerak-gerik tubuhnya,
semuanya.
Lalu ku coba meredefinisikannya.
Kupejamkan mata erat-erat.
Semakin membayangkannya,
Semakin suka.
Ah… rasa suka ini.. kenapa begitu saja muncul.
Apakah ini cinta???
Cinta…?? Oh tidaak…
Apakah aku sedang jatuh cinta?
Cinta pada dia yang ku suka?
Hmm… jatuh cinta,,
Kenapa harus jatuh karena cinta???
Apakah cinta timbul karena suka??
Begitukah?
Cinta.. cinta..
Banyak orang dibuat gila karena cinta
Banyak orang putus asa karena cinta
Banyak orang bunuh diri pun karena cinta
Cinta membuat orang buta,
Melakukan segala cara untuk mendapatkan yang dicinta
Oh tidaak…. Tidaak…
Sepertinya banyak orang terlalu cepat mengambil kesimpulan
Bahwa suka = cinta
Apakah iya suka itu adalah cinta?
Tapi.. aku tidak merasakannya..
Aku hanya suka.
Suka, sekedarnya.
Ya, semacam simpati, ngefans, dan lain sebagainya.
Suka.. ya itu dia.
Bukan cinta.
Aku suka sekali sekali padanya.
Dan..
Dia yang ku suka,
Tapi bukan yang kucinta,
Dia adalah Panda.
^^,
*Akhir April 2012,
ide didapatkan saat berkendara pulang ngelesi di deltasari.
»» READMORE...
Rabu, 14 Maret 2012
MENDIDIK ANAK MENJADI PENGUSAHA
By: Ustadz Yusuf Mansur @ Wisata Hati ANTV
Kita tak akan tahu kapan malaikat maut menjemput kita menghadap Rabb semesta alam. Oleh karena itu sebagai orang tua hendaklah takut meninggalkan keturunannya dalam keadaan yang lemah dan khawatir akan kesejahterannya. Seperti dalam firman Allah swt:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An-Nisa : 9)
Salah satu cara mendidik anak yang sangat dianjurkan adalah mendidik mereka dengan tradisi menjadi pengusaha. Saat ini, pendidikan di Indonesia malah menjadikan seoarang anak menjadi seoarang pekerja, bukan menjadi pengusaha. Hal ini terbukti dari ucapan-ucapan yang secara tidak langsung berpengaruh pada mindset seorang anak. Misalkan kamu harus pintar supaya nanti bisa bekerja di perusahaan terkenal dan punya gaji banyak atau jangan jualan di sekolah ya Nak, Ibu malu kamu jualan di sekolah, kayak ibu sama bapakmu ini ndak mampu membiayai sekolahmu saja. Hmmm…. Inilah pendidikan yang salah kaprah. Mendidik anak menjadi seorang pengusaha membuat seorang anak lebih percaya diri dalam bergaul dengan siapa pun, mudah bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, membuat anak lebih mandiri dan tidak lagi tergantung pada orang tuanya.
Mari belajar dari Rasulullah saw, Nabi akhir zaman yang sejak kecil telah ditempa dengan pendidikan berdagang. Sejak kecil Rasulullah telah dididik supaya memiliki sifat tanggung jawab. Hal ini dilakukan dengan diberikannya tanggung jawab berupa hewan-hewan gembala yang harus setiap hari dirawat. Pagi hari dikeluarkan dari kandang, kemudian hewan-hewan itu digiring menuju padang rumput, sorenya kembali dipulangkan menuju kandangnya. Menginjak remaja, Rasulullah saw sudah diajak pamannya, Abu Thalib berdagang, di dalam negeri hingga ke luar negeri. Dengan berdagang itulah Rasulullah terkenal dengan gelarnya, Al-Amin, yang dapat dipercaya. Dari berdagang pula Rasulullah memiliki jaringan yang luas.
Mari belajar dari saudara kita keturunan Cina. Para orang tuanya mendidik anak mereka untuk ikut terlibat dalam proses usaha orang tuanya. Dapat kita temukan di took-toko, dimana sang anak, sambil membawa buku sekolahnya ikut memberikan pelayanan kepada para pembeli di tokonya, atau menjadi kasir di tokonya. Mereka telah berhasil mengesampingkan perasaan minder. Maka, ketika sang anak telah beranjak dewasa, sang anaklah yang menggantikan posisi orang tuanya. Coba simak cerita para pengusaha yang disuguhkan Jawa Pos dalam bab Metropilis kolom pengusaha-pengusaha. Perusahaan-perusahaan mereka (orang-orang Cina) telah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan. Mulai dari nenek moyang hingga cucu mereka. Lihat saja jamu Nyonya Meneer, atau show room mobil ataupun motor, dan sebagainya.
Oleh karena itu, dididiklah anak menjadi pengusaha. Bagaimana caranya? Bekali dengan modal yang cukup dan ilmu berdagang. Orang tua juga dapat membantu anak memproduksi barang dagangan. Misalnya sang ibu membantu membuatkan donat/roti, kemudian meminta sang anak menitipkan ke warung-warung. Atau sang ayah mengajak sang anak ke took grosir (Tanah Abang, Mangga Dua – Jakarta; PGS, DTC – Surabaya) kemudian membelikan barang-barang yang biasa dibutuhkan anak-anak seusianya, seperti kaos kaki, alat tulis, dsb. Tanamkan pada diri sang anak, bahwa ia pasti bisa menjadi pengusaha, bisa menjual barang dagangannya habis terjual. Sebelum berangkat berjualan, himbau sang anak untuk menghadap pada Sang Khalik Yang Maha Pemberi Rizqi, ajaklah sang anak menegakkan shalat dhuha, bermunajat pada Allah, memohon supaya dagangannya laris.
Jika sang anak kembali pulang membawa uang yang besarnya lebih kecil dari uang yang dikeluarkan untuk modal, hendaklah para orang tua membesarkan hati sang anak, bukan malah dimarahi atau dicerca. Para orang tua harus menghargai apa yang telah dilakukan sang anak. Dalam pembelajaran, yang sangat dipentingkan adalah prosesnya, yaitu bagaimana sang anak berusaha membuat diri percaya diri, yakin, dan mampu menjual barang dagangannya. Karena menjadi pengusaha tidak langsung harus modal kembali, semua butuh proses, dan proses itulah yang secara perlahan akan membuat sang anak paham dan memiliki pengalaman untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Selamat mendidik anak menjadi pengusaha.
**Note: hal ini berlaku pula untuk para mahasiswa, sudah saatnya bukan lagi bermetal pekerja, namun bermental pengusaha. Saatnya membuka lapangan kerja, bukannya berdiri mengantri mendaftarkan pekerjaan pada perusahaan milik negara, ataupun milik swasta.
_JSR_130312.
»» READMORE...
Kita tak akan tahu kapan malaikat maut menjemput kita menghadap Rabb semesta alam. Oleh karena itu sebagai orang tua hendaklah takut meninggalkan keturunannya dalam keadaan yang lemah dan khawatir akan kesejahterannya. Seperti dalam firman Allah swt:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An-Nisa : 9)
Salah satu cara mendidik anak yang sangat dianjurkan adalah mendidik mereka dengan tradisi menjadi pengusaha. Saat ini, pendidikan di Indonesia malah menjadikan seoarang anak menjadi seoarang pekerja, bukan menjadi pengusaha. Hal ini terbukti dari ucapan-ucapan yang secara tidak langsung berpengaruh pada mindset seorang anak. Misalkan kamu harus pintar supaya nanti bisa bekerja di perusahaan terkenal dan punya gaji banyak atau jangan jualan di sekolah ya Nak, Ibu malu kamu jualan di sekolah, kayak ibu sama bapakmu ini ndak mampu membiayai sekolahmu saja. Hmmm…. Inilah pendidikan yang salah kaprah. Mendidik anak menjadi seorang pengusaha membuat seorang anak lebih percaya diri dalam bergaul dengan siapa pun, mudah bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, membuat anak lebih mandiri dan tidak lagi tergantung pada orang tuanya.
Mari belajar dari Rasulullah saw, Nabi akhir zaman yang sejak kecil telah ditempa dengan pendidikan berdagang. Sejak kecil Rasulullah telah dididik supaya memiliki sifat tanggung jawab. Hal ini dilakukan dengan diberikannya tanggung jawab berupa hewan-hewan gembala yang harus setiap hari dirawat. Pagi hari dikeluarkan dari kandang, kemudian hewan-hewan itu digiring menuju padang rumput, sorenya kembali dipulangkan menuju kandangnya. Menginjak remaja, Rasulullah saw sudah diajak pamannya, Abu Thalib berdagang, di dalam negeri hingga ke luar negeri. Dengan berdagang itulah Rasulullah terkenal dengan gelarnya, Al-Amin, yang dapat dipercaya. Dari berdagang pula Rasulullah memiliki jaringan yang luas.
Mari belajar dari saudara kita keturunan Cina. Para orang tuanya mendidik anak mereka untuk ikut terlibat dalam proses usaha orang tuanya. Dapat kita temukan di took-toko, dimana sang anak, sambil membawa buku sekolahnya ikut memberikan pelayanan kepada para pembeli di tokonya, atau menjadi kasir di tokonya. Mereka telah berhasil mengesampingkan perasaan minder. Maka, ketika sang anak telah beranjak dewasa, sang anaklah yang menggantikan posisi orang tuanya. Coba simak cerita para pengusaha yang disuguhkan Jawa Pos dalam bab Metropilis kolom pengusaha-pengusaha. Perusahaan-perusahaan mereka (orang-orang Cina) telah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan. Mulai dari nenek moyang hingga cucu mereka. Lihat saja jamu Nyonya Meneer, atau show room mobil ataupun motor, dan sebagainya.
Oleh karena itu, dididiklah anak menjadi pengusaha. Bagaimana caranya? Bekali dengan modal yang cukup dan ilmu berdagang. Orang tua juga dapat membantu anak memproduksi barang dagangan. Misalnya sang ibu membantu membuatkan donat/roti, kemudian meminta sang anak menitipkan ke warung-warung. Atau sang ayah mengajak sang anak ke took grosir (Tanah Abang, Mangga Dua – Jakarta; PGS, DTC – Surabaya) kemudian membelikan barang-barang yang biasa dibutuhkan anak-anak seusianya, seperti kaos kaki, alat tulis, dsb. Tanamkan pada diri sang anak, bahwa ia pasti bisa menjadi pengusaha, bisa menjual barang dagangannya habis terjual. Sebelum berangkat berjualan, himbau sang anak untuk menghadap pada Sang Khalik Yang Maha Pemberi Rizqi, ajaklah sang anak menegakkan shalat dhuha, bermunajat pada Allah, memohon supaya dagangannya laris.
Jika sang anak kembali pulang membawa uang yang besarnya lebih kecil dari uang yang dikeluarkan untuk modal, hendaklah para orang tua membesarkan hati sang anak, bukan malah dimarahi atau dicerca. Para orang tua harus menghargai apa yang telah dilakukan sang anak. Dalam pembelajaran, yang sangat dipentingkan adalah prosesnya, yaitu bagaimana sang anak berusaha membuat diri percaya diri, yakin, dan mampu menjual barang dagangannya. Karena menjadi pengusaha tidak langsung harus modal kembali, semua butuh proses, dan proses itulah yang secara perlahan akan membuat sang anak paham dan memiliki pengalaman untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Selamat mendidik anak menjadi pengusaha.
**Note: hal ini berlaku pula untuk para mahasiswa, sudah saatnya bukan lagi bermetal pekerja, namun bermental pengusaha. Saatnya membuka lapangan kerja, bukannya berdiri mengantri mendaftarkan pekerjaan pada perusahaan milik negara, ataupun milik swasta.
_JSR_130312.
MODAL DZIKIR: DORONG GEROBAK (PART 1)
Jadi security selama 7 tahun hidup gak ada perubahan. Punya warung, sudah puluhan tahun jadi penjual nasi tapi hidup gitu-gitu aja. Jadi tukang sapu jalanan tapi hidup bagai angin lalu. Atau jadi mahasiswa, sudah keluar banyak biaya, waktu dan tenaga tapi ujung-ujungnya jadi pekerja kantoran yang gajinya gak seberapa atau bahkan malah jadi pengangguran. Mengapa hal itu terjadi??? Karena hidup kita banyak kosongnya. Maksudnya kita kurang bisa memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat.
Apapun profesinya, sebenarnya seseorang memiliki banyak waktu luang. Bagaimana waktu itu dihabiskan, tergantung pada individu masing-masing. Ada 3 waktu luang yang dimiliki semua orang, yaitu ketika berangkat kerja, istirahat, dan pulang kerja.
Banyak orang yang berangkat kerja naik motor, mobil, atau angkutan umum seperti kereta api, bus way, atau bajay yang membiarkan perjalanan dengan hal yang sia-sia. Mengobrol kemana-mana atau bahkan sampai membicarakan orang lain, mendengarkan music dari mp3 hp ataupun radio, melihat pemandangan jalanan yang padat merembat oleh berbagai macam sarana transportasi atau hilir mudik orang yang bergegas menuju tempat bekerja masing-masing.
Saudaraku, jangan lewatkan waktumu berlalu begitu saja. Manfaatkan waktu yang ada dengan banyak berdoa, dzikir, bershalawat. Sebagai apapun, dimanapun, dan kapanpun, isi waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat. Sesungguhnya jika kita tidak disibukkan dengan mengerjakan hal-hal kebajikan, maka kita akan disibukkan dengan mengerjakan keburukan. Naudzubiilah.
Sebagai seorang security yang bekerja mengontrol situasi kantor, sebagai seorang pengumpul batu yang setiap hari mendorong gerobak berisi batu dari rumah menuju tempat pengumpul batu, sebagai tukang potong rumput, sambil berjualan nasi uduk, sambil berjualan baju keliling. Maka manfaatkan waktu dengan senantiasa menyelingi dengan bershalawat. Mulut mengucapkan dzikir sehingga otak pun mudah berpikir.
Hidup akan penuh berkah jika dalam sehari hidup kita penuh dengan berdzikir pada Allah swt. Pagi hari, diawali dg basmalah, kemudian shalat subuh berjamah. Dhuhur, ashar magrib, isya pun berjamaah, sebelum tidur ditutup dg witir, maka sepanjang hari penuh dg berdzikir.
QS. Ali Imron 189-194
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji."
***140312_BERSAMBUNG
»» READMORE...
Apapun profesinya, sebenarnya seseorang memiliki banyak waktu luang. Bagaimana waktu itu dihabiskan, tergantung pada individu masing-masing. Ada 3 waktu luang yang dimiliki semua orang, yaitu ketika berangkat kerja, istirahat, dan pulang kerja.
Banyak orang yang berangkat kerja naik motor, mobil, atau angkutan umum seperti kereta api, bus way, atau bajay yang membiarkan perjalanan dengan hal yang sia-sia. Mengobrol kemana-mana atau bahkan sampai membicarakan orang lain, mendengarkan music dari mp3 hp ataupun radio, melihat pemandangan jalanan yang padat merembat oleh berbagai macam sarana transportasi atau hilir mudik orang yang bergegas menuju tempat bekerja masing-masing.
Saudaraku, jangan lewatkan waktumu berlalu begitu saja. Manfaatkan waktu yang ada dengan banyak berdoa, dzikir, bershalawat. Sebagai apapun, dimanapun, dan kapanpun, isi waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat. Sesungguhnya jika kita tidak disibukkan dengan mengerjakan hal-hal kebajikan, maka kita akan disibukkan dengan mengerjakan keburukan. Naudzubiilah.
Sebagai seorang security yang bekerja mengontrol situasi kantor, sebagai seorang pengumpul batu yang setiap hari mendorong gerobak berisi batu dari rumah menuju tempat pengumpul batu, sebagai tukang potong rumput, sambil berjualan nasi uduk, sambil berjualan baju keliling. Maka manfaatkan waktu dengan senantiasa menyelingi dengan bershalawat. Mulut mengucapkan dzikir sehingga otak pun mudah berpikir.
Hidup akan penuh berkah jika dalam sehari hidup kita penuh dengan berdzikir pada Allah swt. Pagi hari, diawali dg basmalah, kemudian shalat subuh berjamah. Dhuhur, ashar magrib, isya pun berjamaah, sebelum tidur ditutup dg witir, maka sepanjang hari penuh dg berdzikir.
QS. Ali Imron 189-194
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji."
***140312_BERSAMBUNG
Langganan:
Postingan (Atom)
