Assalamu'alaykum... Selamat datang di blog saya..

Muslimah

Muslimah

Jumat, 04 Februari 2011

INILAH CARAKU BERBAKTI KEPADAMU, MAMA...

“Aslm. Mba Qanita? Kpn plg?"
Qanita bingung menjawab sms dari adik perempuannya, Zahra. Agenda kampus dua minggu ke depan luar biasa padat. Tiap akhir pekan ada saja kegiatan.
“Kapan ya aku bisa pulang..? kelihatannya kalau pulang di akhir pekan sudah ndak mungkin lagi deh. Klo di sela-sela jadwal kuliah mungkin bisa kali ya.” Gumam Qanita dalam hati.
Senin, kuliah dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore. Setelah itu ngisi mentoring adik-adik 2010. Malemnya ada rapat. Selasa pagi, ada syuro. Setelah itu cari data ke perpus untuk tugas kuliah. Siangnya ada kuliah, sore rencananya mau ngenet, malamnya kuliah lagi. Rabu, sebenarnya ndak ada kuliah sih. Tapi mau ikut upacara sumpah pemuda dan aksinya sospol BEM. Terus, ngerjakan tugas sampe malem. Kamis pagi ada kuliah, terus jam 10 ngisi mentoring adik-adik kelompok Istiqomah, trus ngerjakan tugas lagi, dan sorenya kuliah. Malamnya ada rapat. Jumat pagi ada liqo, terus jam 11 ngisi liqo kelompok mujahidah. Siangnya ada kuliah tamu Technopreneur. Sore, ada rapat di BEM.
“Waduh... kapan bisa pulangnya?? banyak banget tugasnya, mana pada deadline lagi!”
“Belum tau Dek, kpn bs plg. Cz agenda kampus padet bgt. Tgs2ku jg pada deadline smw”
“Assalamu’alaykum Mba Qanita. Mba, lg sibukkh? Aq pingin diskusi sm Mba. Mba Qanita bisanya kpn Mba?”. SMS dari salah satu adik 2009 jurusan lain yang bernama Jamilah.
“Qanita, minta tlg sgera dicairkan dana kegiatan Speak-up Girls nya ya. Cz klo g sgera dicairkan qt ndak bisa dpt uang lho.. Ntar g bs byr utang ke tmn2. Ayok disgerakan ya!”, SMS dari rekan seperjuangan Qanita.
***

Qanita merupakan mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri. Ia merupakan seorang aktivis yang memiliki banyak kegiatan. Meskipun jarak kampus dengan rumahnya cukup dekat, yaitu sekitar 20 km, namun Qanita lebih memilih tinggal di dekat kampus. Ia tinggal di sebuah asrama yang tidak dipungut biaya sepeser pun. Di sana, Qanita menjadi pendamping adik-adik penerima sebuah beastudi. Setiap hari, Qanita bangun pukul 2 pagi untuk membangunkan adik-adik asrama dan menunaikan shalat tahajud. Qanita meneruskan aktivitasnya dengan hafalan juz 30 dan hadits Arba’in. Qanita membiasakan diri untuk tidak tidur setelah shalat subuh. Hal ini dilakukan dengan berbagai aktivitas, seperti membaca al-ma’tsurat, mencuci baju, menyapu, menyiram tanaman, dan sebagainya.
Akhwat sederhana yang bersahaja, tangguh, dan selalu ceria. Itulah gambaran diri Qanita. Meskipun orang tuanya tergolong mampu, ia tidak ingin meminta dibelikan sepeda motor. Perpindahan Qanita dari satu tempat ke tempat lain dilakukan dengan mengendarai sepeda onthel. Terkadang, Qanita juga berjalan kaki atau naik transportasi umum. Qanita telah memegang teguh prinsipnya, yaitu berusaha untuk bisa mengendalikan diri tidak bergantung pada kecanggihan teknologi, salah satunya dengan mengendarai motor dengan alasan: “Aku tidak ingin mencemari lingkungan kampus karena dunia ini telah banyak dirusak manusia. Manusia telah banyak bergantung pada kendaraan bermotor sehingga berakibat pencemaran dimana-mana. Naik motor atau mobil pribadi juga membuat negeri ini kurang sehat. Kemacetan dimana-mana, orang-orang terserang penyakit paru-paru, dan di sisi lain membuat penghasilan para sopir bus, bemo, juga tukang becak berkurang. Padahal mereka juga butuh uang untuk menghidupi keluarganya. Jika saya naik motor saya malu pada Allah karena saya tidak mampu mempertanggungjawabkan kelak di akhirat.” Begitulah Qanita, ia seorang yang idealis. Prinsip hidup dan cita-citanya tinggi. Hidup mulia di sisi Allah dan mati sebagai syahidah, itulah mimpinya.
***

“Assalamu’alaykum...”, ucap Qanita sambil memasuki rumahnya. Akhirnya Qanita menyempatkan diri pulang pada hari Selasa malam setelah selesai kuliah. Di rumah, orang tua Qanita membuka usaha toko. Qanita merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Kakaknya bernama Qinwa. Adiknya ada tiga, dua orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Adik pertama bernama Zahra, adik kedua bernama Muhammad, dan adik terakhir bernama Hajar.
“Kak, Mama mana? Koq gak kelihatan?”, tanya Qanita pada kakaknya.
“Mama tidur, sudah capek seharian jaga. Dari pagi belum istirahat habis belanja keliling-keliling”, jawab kakak Qanita.
“Ayah?”, tanya Qanita lagi.
“Ayah di atas, tidur juga. Ayah juga capek Qan, nganterin Mama belanja.”
“Mba.. beli..”, suara seorang pembeli.
“Qan, jualin tuh, aku udak capek juga dari tadi jualin terus”, ujar kakak Qanita.***
“Lagi libur kuliahnya Qan?”, tanya mama.
“Enggak Ma, malah lagi sibuk-sibuknya. Banyak tugas yang harus dikumpulkan, mana banyak acara di kampus pula”, jawab Qanita.
“Qanita, tuh bukunya diberesin di taruh lemari kaca yang di mushola. Dua minggu lagi ada tamu yang datang, jadi rumah harus sudah bersih dan rapi”, ucap Ayah.
“Ayah... Qanita mau berangkat ke kampus. Sudah banyak tugas dan orang menanti.”
“Qanita itu Yah, sok sibuk klo di rumah. Klo di kampus aja suka lama-lama. Semuanya diurusin makanya jarang pulang.” Ujar kakak Qanita kepada Ayah
“Kamu ini Qan.. sukanya ngasih nasehat macem-macem, tapi klo disuruh Ayah sama Mama mesti sok sibuk. Katanya harus berbakti sama orang tua, tapi mana? Kamu malah gak pernah pulang, jarang bantu-bantu di rumah. Padahal di sini semuanya kerja keras banting tulang buat nyari uang untuk biaya kuliahmu dan uang jajanmu. Aku gak mau nganterin. Berangkat sendiri aja!”, ucap kakak Qanita dengan nada yang meninggi.
“Sudah.. sudah.. pagi-pagi uadah rame kayak pasar. Qanita makan dulu sana, sebelum berangkat. Qinwa ada orang yang mau beli tuh,” ucap mama melerai pertengkaran.
Dengan mata agak berkaca-kaca, Qanita segera bersiap-siap berangkat ke kampus.
“Aku berangkat Ma, Yah.. naik bemo aja.”
“Lho? Koq ndak makan?, tanya Mama.
“Qanita puasa Ma.”.
***

Ayah, Mama, Kak Qinwa, Zahra, Muhammad, dan Hajar.
Assalamu’alaykum wr wb.
Sebelumnya, mohon maaf atas segala perbuatan, ucapan, serta hal-hal yang telah menyakitkan kalian semua. Kutuliskan surat ini semoga Ayah, Mama, Kak Qinwa, Zahra, Muhammad, dan Hajar tidak pernah berburuk sangka kepadaku lagi.
Ayah, Mama, Kak Qinwa, Zahra, Muhammad, dan Hajar.
Jika kalian tahu, di sana, di tempatku tinggal, di kampusku, Kehidupanku tak ubahnya Ayah, Mama, Kak Qinwa, Zahra, Muhammad, dan Hajar di rumah. Perjuanganku di kampus pun sama beratnya. Dipundakku, telah terpikul berbagai amanah dakwah. Amanah ini, tak satu pun kupinta. Tapi Allahlah yang memberinya untukku. Allahlah yang memilihku untuk menyelesaikan amanah ini. Kepulanganku yang jarang, sedikitnya aktivitasku dirumah, semuanya kukorbankan untuk menunaikan amanah ini. Aku rela mengerjakan apa saja demi agamaku, demi syiar Islam di kampusku, demi tegaknya Islam di negeri ini.
Ayah, Mama. Setiap hari, aku berangkat pagi dan pulang di malam hari. Semua aktivitasku kuhabiskan di kampus, mengurus berbagai permasalahan, baik akademikku, maupun urusan dakwah. Tlah kuberikan prioritas utama pada dakwah di jalan Allah ini. Kuliahku, kujadikan prioritas kedua. Maafkan aku Ayah dan Mama atas sgala khilafku. Tapi aku telah berjanji pada diriku untuk tidak pernah mengecewakan Ayah dan Mama. Tlah kutarget dalam hidupku, aku bisa lulus tepat waktu dan cumlaude. Tlah kubayangkan namaku dan menjadi wisudawati terbaik. Ayah dan Mama pun turut dipanggil untuk menerima penghargaan. Smoga atas izin Allah dan doa Ayah dan Mama, mimpi itu dapat terwujud.
Kak Qinwa, Zahra, Muhammad, dan Hajar.
Kehidupanku tak lebih baik dari kehidupan kalian di rumah. Makanku hanya dua kali sehari. Itupun makan dengan lauk seadanya. Makan-makanan lezat dan bergizi seperti yang biasa kalian konsumsi di rumah sangat jarang kumakan. Maka jangan heran mengapa aku terlihat kurus ketika pulang. Setiap hari, aku pun harus mengayuh sepeda hampir 5 km. Berbeda dengan kalian yang kemana-mana naik sepeda motor atau minta antar Ayah naik mobil.
Ayah, Mama, Kak Qinwa, Zahra, Muhammad, dan Hajar.
Aku telah mengikhlaskan diriku pada Allah. Jika Ayah, Mama, Kak Qinwa, Zahra, Muhammad, dan Hajar di rumah berjuang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Maka aku berjuang untuk ummat. Memang harus ada yang dikorbankan. Relakanlah aku tuk berjuang di jalan Allah ini. Ikhlaskanlah aku jika suatu saat nanti aku meninggal di jalan Allah ini karena itulah mimpiku. Sebuah nasihat dariku untuk semuanya, Tunaikanlah sholat, keluarkanlah sedekah, dan ingatlah Allah dimana pun kita berada, niscaya Allah akan mengabulkan doa-doa kita. Terima kasih Ayah, Mama, Kak Qinwa, Zahra, Muhammad, dan Hajar atas sgala kebaikan kalian. Semoga kebaikan kalian diberi ganjaran oleh Allah dengan kebaikan yang berlipat ganda. Sekali lagi maaf atas sgala khilafku.
Wassalamu’alaykum wr wb.
Surat itu ditulis Qanita setelah tiba di kampus. Kemudian surat itu dikirimkan dengan perangko yang paling murah supaya para penghuni rumah menerima surat tersebut tidak dalam waktu dekat. Surat tersebut merupakan tumpahan emosi Qanita selama ini. Ia berharap Ayah, Mama, Kak Qinwa, Zahra, Muhammad, dan Hajar dapat berubah menjadi pribadi yang lebih Islami.
***

“Subhanallah.. panas sekali hari ini. Ya Allah, berilah hamba kekuatan sehingga dapat berjalan hingga asrama. Berilah kesabaran kepada hamba sehingga hamba dapat melawan hawa nafsu dan dapat berbuka pada saat adzan magrib nanti. Berilah hamba keikhlasan sehingga langkah hamba semakin ringan. Aamiin..”, doa Qanita sembari berjalan.
Hari itu, Qanita pulang dari tempat kerja praktek dengan berjalan kaki. Kira-kira jarak yang ditempuh sekitar 2 km untuk mendapatkan angkutan umum menuju asrama. Setelah mendapatkan angkutan umum, Qanita melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki menuju asrama. Sesampainya di asrama, jam menunjukkan pukul 16.30. Saat itu seluruh badan Qanita gemetar. Qanita segera berbaring di tempat tidur sambil beristighfar. Akhirnya Qanita pun tertidur.
***

“Mba Qanita.. bangun..! Sudah magrib lho.. ayo sholat magrib berjamaah...”, ucap adik asrama yang bernama Izzah. Qanita tidak menunjukkan reaksi. Izzah membangunkannya 3 kali hingga akhirnya Izzah memutuskan untuk sholat magrib berjamaah terlebih dahulu. Adzan Isya berkumandang. Qanita belum juga terbangun. Kali ini, Tartilla, adik binaan Qanita di asrama yang membangunkan Qanita. Tartilla membangunkan Qanita 3 kali. “Mungkin Kak Qanita kecapekan, jadi gak bangun-bangun”, ucap Tartilla pada teman-temannya.
Pukul 19.30, Mba Aisyah, koordinator wilayah beastudi berkunjung ke asrama putri. Mba Asiyah menanyakan keberadaan Qanita kepada para penghuni asrama. Kemudian, Izzah dan Tartilla menceritakan bahwa Qanita sudah berusaha dibangunkan tapi tetap tidak ada respon. Akhirnya, Mba Aisyah berinisiatif menuju kamar Qanita dan mencoba membangunkannya. Setelah tiga kali dibangunkan, namun Qanita tetap belum merespon, Mba Aisyah meletakkan jari telunjuk kanannya di bawah hidung Qanita dan memegang tangan kanan Qanita dengan jari-jari kanannya.
“Innalillahi wa innailaihi raaji’uun.. Mba Qanita telah meninggal dunia”, ujar Mba Aisyah. Isak tangis seketika meledak saat itu juga. Mba Aisyah segera menelpon keluarga Qanita dan menelpon rumah sakit terdekat untuk mengirim ambulans.
***

Suasana gemericik air dan dahan-dahan pohon yang tertiup angin menjadi sebuah instrumen syahdu yang menakjubkan. Terlihat rumah-rumah indah nan megah berdiri di sana. Di setiap rumah terdapat tulisan para penghuninya. Salah satu rumah tersebut bertuliskan: Rumah Ayah dan Mama Qanita beserta anak-anaknya. Mama begitu takjub melihat pemandangan tersebut. Mama semakin memperluas daerah pandangannya hingga suatu suara menyapanya.
“Mama... kemarilah.. aku Qanita Ma. Aku kangen sama Mama. Qanita ingin memeluk dan mencium Mama. Ma, aku ingin memberi Mama sebuah mahkota yang elok rupawan.”, ujar Qanita.
“Nak.. kau masih hidup? Kau semakin cantik. Nak, dimanakah gerangan tempat yang bagus nan indah ini? Mengapa rumah itu bertuliskan namamu? Dari mana kau dapatkan mahkota itu, Nak?”, tanya Mama Qanita sambil terheran-heran.
Qanita menjelaskan kepada Mama bahwa tempat ini adalah surga Adn. Surga tempat orang yang bertakwa dan bertawakal berada. Surga ini merupakan balasan Allah atas kesyahidan Qanita. Rumah dan mahkota itu dalah pemberian dari Allah. Keduanya merupakan ganjaran Allah untuk Qanita atas segala amal ibadah yang Qanita lakukan di dunia. Rumah itu dihadiahkan Allah karena Qanita selalu melakukan sunnah Nabi. Sedangkan mahkota itu merupakan hadiah Allah sebagai ganjaran atas bacaan Al-Qur’an yang Qanita baca selama hidup.
“Sudah saatnya Qanita pergi. Selamat tinggal Mama. Inilah caraku berbakti kepadamu, Mama.”
Mama terbagun pada dini hari dan tak henti-hentinya mengucap subhanallah. Pada pagi harinya, tukang pos meletakkan surat Qanita dan laporan nilai kuliah Qanita semester Gasal di kotak surat. Mama membuka dan membaca surat Qanita, sambil menangis. Kemudian, membuka laporan nilai kuliah Qanita dan hasilnya cumlaude sempurna dengan IPS 4 bulat. Mama pun tersenyum.
***

[Dan kemudian dikatakan kepada orang yang bertakwa, Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Kebaikan.” Bagi orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat balasan yang baik. Dan sesungguhnya negeri akhirat pasti lebih baik. Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertaqwa. (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuki, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala yang diinginkan. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang yang baertaqwa.(Yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka para mailakat mengatakan “Salamun’alaykum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. An-Nahl: 30-32)]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

') }else{document.write('') } }