Assalamu'alaykum... Selamat datang di blog saya..

Muslimah

Muslimah

Rabu, 14 Maret 2012

MENDIDIK ANAK MENJADI PENGUSAHA

By: Ustadz Yusuf Mansur @ Wisata Hati ANTV

Kita tak akan tahu kapan malaikat maut menjemput kita menghadap Rabb semesta alam. Oleh karena itu sebagai orang tua hendaklah takut meninggalkan keturunannya dalam keadaan yang lemah dan khawatir akan kesejahterannya. Seperti dalam firman Allah swt:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An-Nisa : 9)

Salah satu cara mendidik anak yang sangat dianjurkan adalah mendidik mereka dengan tradisi menjadi pengusaha. Saat ini, pendidikan di Indonesia malah menjadikan seoarang anak menjadi seoarang pekerja, bukan menjadi pengusaha. Hal ini terbukti dari ucapan-ucapan yang secara tidak langsung berpengaruh pada mindset seorang anak. Misalkan kamu harus pintar supaya nanti bisa bekerja di perusahaan terkenal dan punya gaji banyak atau jangan jualan di sekolah ya Nak, Ibu malu kamu jualan di sekolah, kayak ibu sama bapakmu ini ndak mampu membiayai sekolahmu saja. Hmmm…. Inilah pendidikan yang salah kaprah. Mendidik anak menjadi seorang pengusaha membuat seorang anak lebih percaya diri dalam bergaul dengan siapa pun, mudah bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, membuat anak lebih mandiri dan tidak lagi tergantung pada orang tuanya.

Mari belajar dari Rasulullah saw, Nabi akhir zaman yang sejak kecil telah ditempa dengan pendidikan berdagang. Sejak kecil Rasulullah telah dididik supaya memiliki sifat tanggung jawab. Hal ini dilakukan dengan diberikannya tanggung jawab berupa hewan-hewan gembala yang harus setiap hari dirawat. Pagi hari dikeluarkan dari kandang, kemudian hewan-hewan itu digiring menuju padang rumput, sorenya kembali dipulangkan menuju kandangnya. Menginjak remaja, Rasulullah saw sudah diajak pamannya, Abu Thalib berdagang, di dalam negeri hingga ke luar negeri. Dengan berdagang itulah Rasulullah terkenal dengan gelarnya, Al-Amin, yang dapat dipercaya. Dari berdagang pula Rasulullah memiliki jaringan yang luas.

Mari belajar dari saudara kita keturunan Cina. Para orang tuanya mendidik anak mereka untuk ikut terlibat dalam proses usaha orang tuanya. Dapat kita temukan di took-toko, dimana sang anak, sambil membawa buku sekolahnya ikut memberikan pelayanan kepada para pembeli di tokonya, atau menjadi kasir di tokonya. Mereka telah berhasil mengesampingkan perasaan minder. Maka, ketika sang anak telah beranjak dewasa, sang anaklah yang menggantikan posisi orang tuanya. Coba simak cerita para pengusaha yang disuguhkan Jawa Pos dalam bab Metropilis kolom pengusaha-pengusaha. Perusahaan-perusahaan mereka (orang-orang Cina) telah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan. Mulai dari nenek moyang hingga cucu mereka. Lihat saja jamu Nyonya Meneer, atau show room mobil ataupun motor, dan sebagainya.

Oleh karena itu, dididiklah anak menjadi pengusaha. Bagaimana caranya? Bekali dengan modal yang cukup dan ilmu berdagang. Orang tua juga dapat membantu anak memproduksi barang dagangan. Misalnya sang ibu membantu membuatkan donat/roti, kemudian meminta sang anak menitipkan ke warung-warung. Atau sang ayah mengajak sang anak ke took grosir (Tanah Abang, Mangga Dua – Jakarta; PGS, DTC – Surabaya) kemudian membelikan barang-barang yang biasa dibutuhkan anak-anak seusianya, seperti kaos kaki, alat tulis, dsb. Tanamkan pada diri sang anak, bahwa ia pasti bisa menjadi pengusaha, bisa menjual barang dagangannya habis terjual. Sebelum berangkat berjualan, himbau sang anak untuk menghadap pada Sang Khalik Yang Maha Pemberi Rizqi, ajaklah sang anak menegakkan shalat dhuha, bermunajat pada Allah, memohon supaya dagangannya laris.

Jika sang anak kembali pulang membawa uang yang besarnya lebih kecil dari uang yang dikeluarkan untuk modal, hendaklah para orang tua membesarkan hati sang anak, bukan malah dimarahi atau dicerca. Para orang tua harus menghargai apa yang telah dilakukan sang anak. Dalam pembelajaran, yang sangat dipentingkan adalah prosesnya, yaitu bagaimana sang anak berusaha membuat diri percaya diri, yakin, dan mampu menjual barang dagangannya. Karena menjadi pengusaha tidak langsung harus modal kembali, semua butuh proses, dan proses itulah yang secara perlahan akan membuat sang anak paham dan memiliki pengalaman untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Selamat mendidik anak menjadi pengusaha.

**Note: hal ini berlaku pula untuk para mahasiswa, sudah saatnya bukan lagi bermetal pekerja, namun bermental pengusaha. Saatnya membuka lapangan kerja, bukannya berdiri mengantri mendaftarkan pekerjaan pada perusahaan milik negara, ataupun milik swasta.

_JSR_130312.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

') }else{document.write('') } }