Assalamu'alaykum... Selamat datang di blog saya..

Muslimah

Muslimah

Selasa, 14 Februari 2012

RESUME KAJIAN Kitab AT-TIBYUN FII ADABI HAMALATIL QUR’AN

Bersama Ustadz Mudawi (Senin, 13 Februari 2012 @ Griya Qur’an )

Apa itu Kitab At-Tibyan Fii Adabi Hamalatil Qur’an?
At-Tibyan berasal dari kata Bayyana, Yubayyinu yang artinya menjelaskan, dan At-Tibyan artinya penjelasan. Fii memiliki arti dalam, Adabi artinya etika, tata karma, dan Hamalatil Qur’an artinya pembawa Qur’an. Nah, siapakah yang dimaksud dengan pembawa Qur’an? Pembawa Qur’an yang dimaksud adalah para penghafal Al-Qur’an. Jadi, Kitab At-Tibyan Fii Adabi Hamalatil Qur’an merupakan sebuah kitab yang memberikan penjelasan mengenai etika para penghafal Qur’an. Kitab ini merupakan kitab rujukan umat Islam di seluruh penjuru dunia, yang ditulis oleh Imam Nawawi.

Bab 1: Athroofi Min Fadhiilatin Tilaawatil Qur’an Wa Hamalatihi (Keutamaan Tilawah Qur’an dan Penghafal Qur’an)
Seperti yang kita tahu, firman Allah swt yang pertama kali turun adalah Iqro’ (bacalah), lengkapnya Iqro bismirobbikalladzii kholaq (Bacalah dengan nama Tuhanmy yang menciptakan). Dalam hal membaca Al-Qur’an, terdapat dua istilah yang telah kita kenal, yakni tilawah dan qiro’ah. Apakah perbedaan antara keduanya? Tilawah adalah membaca Al-Qur’an secara berkesinambungan atau terus menerus. Sedangkan Qiro’ah adalah membaca dengan teliti. Nah, sebagai penghafal Qur’an, kita harus melakukan keduanya, baik tilawah maupun qiro’ah, yakni membaca dengan pemahaman yang mendalam secara terus menerus.

Masuk pada pembahasan bab satu mengenai keutamaan membaca Al-Qur’an secara terus-menerus dan penghafal Qur’an. Keutamaan pertama, yakni Allah swt akan menyempurnakan pahalanya dan akan menambah karunia-Nya. Coba cermati surat Fatir (35) ayat 29 dan 30 berikut.

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat, menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima Syukur.”

Dalam ayat tersebut, terdapat kriteria orang-orang yang akan disempurnakan pahalanya dan ditambah karunianya, yaitu orang yang membaca Al-Qur’an secara terus menerus, orang yang melaksanakan shalat, dan orang yang menginfakkan harta di jalan Allah swt. Namun tidak serta merta Allah akan memberikan ganjarannya. Ada satu lagi syarat yang harus dipenuhi, yaitu IKHLAS. Bagaimanakah orang yang IKHLAS itu? Allah menerangkan dalam ayat yang sama, yaitu orang yang melaksanakan ketiga kriteria tersebut baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Jadi oarng yang ikhlas itu harus seimbang amalnya, tak hanya ketika terlihat saja beramal namun ketika sembunyi-sembunyi juga tetap beramal.

Simak kisah Abu Hurairah berikut.
Suatu ketika Abu Hurairah sedang melaksanakan shalat. Kemudian ada tamu yang masuk dan melihat Abu Hurairah sedang shalat. Abu Hurairah merasa senang sekali, ketika ia shalat ada orang yang melihatnya. Namun kesenangan Abu Hurairah tak berlangsung lama karena ia tak hentinya memikirkan kejadian tersebut, khawatir pada saat itu ia shalat dengan riya’. Tak tahan dengan pikiran yang menganggunya, ia pun segera menemui Rasulullah saw untuk mengadukan perihal kekhawatirannya. Menjawab persoalan Abu Hurairah, Rasulullah saw pun berkata, “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya atas pelaksanaan shalat itu kamu telah mendapatkan dua pahala, yaitu pahala ketika kamu melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi dan pahala ketika kamu melaksanakan shalat secara terang-terangan.”

Sesungguhnya batas antara ikhlas dan riya’ memang tipis, maka patutlah bagi kita untuk berhati-hati dan senantiasa memuhasabah diri. Apakah ibadah yang kita lakukan sudah ikhlas hanya karena Allah swt atau hanya semata-mata karena untuk dipuji manusia, Na’udzubillah. Kembali pada topik bahasan pada bab 1. Orang-orang yang membaca Al-Qur’an, melaksanakan shalat, dan menginfakkan harta, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka itulah yang mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi. Dengan siapakah kita melakukan perniagaan yang akan tidak rugi? Yup. Hanya dengan Allah swt. Allah telah membeli diri dan harta orang mukmin seharga surga. Subhanllah. Sebagaimana dalam firman Allah berikut.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka” (QS. At-Taubah: 111)

Jika ingin mendapatkan surga, maka lakukanlah perniagaan dengan Allah swt. Sebagai seorang mukmin, kita harus bisa menjual diri kita supaya menjadi pribadi berkualitas yang memenuhi kriteria tersebut. Jual diri kita dengan amal-amal unggulan, maka Allah swt akan membeli diri kita dengan balasan surga, Insya Allah. Hindari jiwa-jiwa NGALEM POLL (NGAntukan, Lemah, sEdih, Males, Putus asa, Lemot, Letoy). Karena hal-hal semacam itulah yang membuat kita tidak melakukan perniagaan dengan Allah swt.

Keutamaan kedua adalah menjadi sebaik-baik manusia.
Diriwayatkan dari Utsman bin Affan RA, Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Muslim dan Imam Ahmad)
Nah, menjadi seorang santri (murid) Qur’an menjadikan kita sebaik-baik manusia. Maka jika sedang belajar Al-Qur’an, tetaplah istiqomah mempelajarinya. Bagi muslim/muslimah yang belum tertarik mempelajari Al-Qur’an, jangan tunggu nanti saat usia sudah lanjut. Khawatir maut keburu menjemput. Karena kita tak tahu hingga kapan kita berada di dunia yang hanya panggung sandiwara ini.

Keutamaan ketiga adalah akan dijaga para malaikat yang mulia dan senantiasa berbakti pada Allah swt.

Dari Aisyah RA berkata, Rasulullah saw bersabda “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir (karena kekuatan hafalannya) adalah akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya. “ (HR Bukhori-Muslim)

Subhanallah. Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama dengan para malaikat Allah swt. Bagi muslim/muslimah yang masih terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an maupun menghafal Al-Qur’an, tetaplah istiqomah melakukannya. Secara terus-menerus lagi berkesinambungan melakukan tilawah dan muroja’ah supaya hafalan bertambah, pahala pun berganda.

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.” (QS. Al-Kahfi: 103-108)

Orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, merekalah orang-orang yang merugi. Mereka menyangka telah berbuat baik namun ternyata sia-sia amalannya selama di dunia. Orang yang kufur termasuk di dalamnya orang yang tidak membaca Al-Qur’an, tidakberusaha mempelajari serta tidak mengamalkannya. Maka berbanggalah bagi muslim/muslimah yang mahir membaca Al-Qur’an (hafalannya kuat) maupun yang sedang berusaha belajar Al-Qur’an. Mungkin, saat ini kesulitan demi kesulitan datang mendera saat berusaha menghafalkan kalam Ilahi. Namun, tetaplah yakin, bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Seperti dalam surat Al-Insyirah.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Inyirah: 5-6)
Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Pernyataan tersebut diulang dua kali hal ini (dalam hal mempelajari Al-Qur’an - menurut Rasulullah) sesungguhnya kesulitan yang kita hadapi saat membaca Al-Qur’an hanyalah sekali saja, yaitu kesulitan di dunia. Sedangkan kemudahan ada dua, yakni kemudahan di dunia amaupun di akhirat. Kemudahan di dunia maksudnya, Allah akan senantiasa memberikan pertolongan bagi siapa saja yang membaca Al-Qur’an. Sedangkan kemudahan di akhirat adalah pada saat nanti di akhirat bacaan Al-Qur’an kita diujikan, kita akan kagum dengan kemampuan kita karena pada saat itulah diberikan kemudahan membaca Al-Qur’an.

*****

Sesi Tanya Jawab

1. Menghafal Al-Qur’an mencegah dari kepikunan.
Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dengan penuh keberkahan untuk dipahami dan mudah diingat. Definisi pikun adalah tidak mengetahui apa yang dulu pernah diingat. Berbeda dengan lupa. Semua manusia pasti pernah lupa. Kalau misalnya Anda mencari dan bertanya kepada keluarga Anda, dimana kacamata Anda padahal kacamata itu sedang Anda pakai. Itu berarti lupa. Jika kita mengalami kecelakaan atau kepala kita terbentur sesuatu kemudian kita tidak bisa mengingat hal-hal yang dulu pernah dilakukan, itu merupakan pikun. Allah swt akan memberikan kepada tiap hambanya suatu rentang usia dimana ia mengalami kepikunan. Kecuali bagi para penghafal Al-Qur’an. Karena para penghafal Al-Qur’an juga turut menjaga kemurnian kalam Ilahi, maka Allah swt pun turut memberikan penjagaan nikmat bagi para penghafal Al-Qur’an.

Berbicara mengenai nikmat pemberian Allah swt.
Allah telah mencurahkan banyak sekali nikmat pada hamba-hamba-Nya. Nikmat yang paling mahal harganya adalah nikmat iman, Islam, dan sehat. Lalu, bagaimana kita menjaganya? Ingat lagu Tombo Ati? Yang salah satunya adalah berkumpullah dengan orang-orang shaleh. Ya, nikmat iman dan Islam dapat dijaga dengan berada pada komunitas-komunitas yang senantiasa mendekatkan diri kita pada Allah swt. Komunitas dimana kita dapat senantiasa tolong-menolong, serta saling menasehati dalam kebaikan, kebenaran, dan ketaqwaan. Sedangkan nikmat sehat dijaga dengan mengikuti sunnah Rasulullah saw. Tidak makan dan minum secara berlebihan, yang diimbangi dengan puasa. Karena tidak ada obat dari penyakit kolesterol, asam urat, darah tinggi, stroke, dan penyakit-penyakit lainnya kecuali dengan berpuasa. Rasulullah saw bersabda, “Puasalah. Pasti kamu akan sehat” . Dalam riwayat lain, Rasulullah saw juga bersabda “sebaik-baik puasa adalah puasa Daud” (Puasa-tidak puasa-puasa-tidak puasa-dst)

2. Tips Menghafal
a. Membaca berulang-ulang, sambil merenungi dan memahami maknanya sampai mendalam (sampai kita terenyuh, larut dalam makna-maknyanya). Ukuran ilmu yang bermanfaat itu ada di hati . seperti firman Allah swt.
(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka. (QS. Al-Hajj: 22)
b. Menuliskannya dikertas, membawaya kemana pun pergi kemudian membacanya ketika waktu luang. Metode inilah yang diterapkan sahabat Nabi ketika wahyu turun.

3. Membaca Al-Qur’an Di Angkutan Umum, Bolehkah?
Al-Qur’an merupakan kitab yang diturunkan kepada manusia untuk dijadikan pedoman hidup. Selayaknya kita membaca buku-buku umum, majalah, koran, dimanapun kita berada, yang kita pun tidak canggung ataupun malu membacanya, begitu pula kita pemperlakukannya untuk kitab kita, umat Islam, Al-Qur’an. Tak perlu ditutup-tutupi ataupun canggung. Malah kita harus berbangga, karena kitab Al-Qur’an lah satu-satunya kitab yang dijamin keasliannya dari awal diturunkan hingga akhir zaman (Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa-BQS Al Baqoroh: 2). Di dalam angkutan umum, boleh-boleh saja membaca Al-Qur’an. Memang di Indonesia aktivitas seperti ini belum mulai dibudayakan. Oleh karena itu, dengan kita membaca Al-Qur’an di angkutan umum atau dimana pun kita berada, kita juga turut mensyiarkan Islam di negeri kita.

***** _JSR_13022012.
»»  READMORE...

Senin, 13 Februari 2012

Belajar tak kenal Usia: Berlomba-lomba dalam kebaikan tuk mendapat tiket surga

Bismillahirrohmaaniirrohim
Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

(Sedikit share pengalaman hari ini)

Subhanallah, nikmat Allah sungguh tiada tandingannya. Meskipun hari ini aku hanya mengisi waktu enam jam di luar rumah, namun saat-saat itu sungguh sangat berarti. Diawali dengan mengantarkan adek ke sekolahnya di daerah Prapen. Kemudian kuarahkan laju Farnas ke daerah darmo, menuju rumah Allah yang berada di dekat Kebun Binatang Surabaya. Saat memarkir Farnas, sempat bertanya-tanya, sepagi ini parkiran sudah penuh..??? Subhanallah…. Oh.. mungkin ada pengajian habis subuh, makanya masih banyak motor di sini, pikirku dalam hati. Setelah selesai memarkir Farnas, kulangkahkan kaki ini menuju ruangan untuk jamaah putri.

Samar-samar dari bawah terdengar suara orang mengaji. Semakin keras nan jelas ketika kaki ini semakin mendekati sumber suara. Saat kaki tiba di anak tangga terakhir, terlihat jelas pemandangan yang membuatku takjub. Terdapat bundaran-bundaran kecil yang penghuninya para ibu-ibu dan nenek-nenek. Kutebarkan pandangan mataku menyapu sekeliling ruangan. Aku tidak menjumpai manusia seumuran dengan aku yang menjadi anggota bundaran itu. Subhanallah… hebat.. sungguh luar biasa. Di tengah kesibukan menjadi sosok ibu, yang memiliki seabreg pekerjaan, masih saja menyempatkan diri untuk belajar Kitabullah, pedoman hidup umat Islam. Tak terasa, rasa malu begitu mendalam begitu saja menyelimuti jiwaku. Kemana saja aku selama ini? Yang hilang di tengah kesibukan menjalankan amanah kuliah dan amanah organisasi, namun tak sempat banyak belajar agama. Baru di akhir-akhir semester saja ingat. Lamunanku buyar seketika ketika pandanganku tertuju pada jam dinding.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lewat enam menit. Aku harus bersegera menunaikan aktivitasku karena satu jam lagi harus berpindah ke tempat lain. Setelah kurampungkan aktivitasku, aku segera berkemas untuk meninggalkan tempat tersebut. Saat itu, tak sengaja terdengar sebuah pembicaraan antara dua orang ibu yang telah merampungkan ritual paginya. “Ibu ikut kelas apa di sini?” Tanya ibu berkerudung krem. “Saya ikut kelas tafsir yang satu minggu sekali Bu”, kata Ibu yang masih mengenakan rukuh berwarna putih. “Oh.. ndak ikut mengaji yang seperti ini Bu (sambil menunjuk bundaran kelompok mengaji ibu-ibu)?”. “Oh, iya, saya juga ikut, tapi baru kelas tartil Bu, belum yang tahfidz”. Deg.. Subhanallah….. untuk kedua kalinya aku takjub yang dibarengi rasa malu. Aku berulang kali beristighfar. Belajar memang tak pandang usia. Tua, muda, boleh belajar. Belajar apa pun itu. Baik belajar membaca tulisan latin (abcdefg sampai z), bahasa inggris, bahasa arab (bahasa Al-Qur’an), atau belajar yang lain.
Perjalananku selanjutnya adalah menuju jalan dinoyo nomor 83. Segera kuparkirkan Farnas di parkiran bengkel. Aku mempercepat langkah kakiku karena jam digital pada handphoneku menunjukkan pukul delapan lewat 13 menit. Terdengar suara beberapa orang melantunkan firman Allah surat AL-Insyiqoq. Baru kali ini aku memasuki rumah itu di pagi hari. Di depan pintu kelas, aku merasa bimbang, khawatir tidak ada satu orang pun yang kukenal. Tapi aku harus segera memasukinya dan bergabung dengan mereka. Pintu ku dorong ke depan, kemudian kuucapkan salam dengan lirih, sambil menyapu pandangan ke sekeliling ruangan. Subhanallah…. Untuk ketiga kalinya aku merasa takjub dan malu. Orang-orang yang duduk di majelis itu hamper semuanya sudah lanjut usia. Kira-kira usianya sekitar 50 tahun ke atas. Akulah satu-satunya orang termuda di majelis tersebut. Pembacaan surat Al-Insyiqoq berakhir. Dilanjutkan dengan setoran hafalan. Ibu yang ditunjuk pertama kali membacakan surat Al-Baqoroh halaman ke dua dan ke tiga. Dilanjutkan dengan nenek-nenek yang mungkin usianya sudah 70tahunan. Beliau membacakan surat Al-Ghasyiyah. Kemudian Ibu berkerudung coklat dan berkaca mata. Beliau membacakan juz 2 (aku kurang tahu halaman berapa). Selanjutnya nenek yang enerjik, berbaju kuning. Beliau hamper saja menamatkan juz 30 dengan membaca surat-surat pendek bagian akhir. Kemudian seorang pensiunan puskesmas, yang juga seorang dokter gigi berusia 64 tahun. Beliau duduk tepat di sebelahku. Beliau membaca surat Al-Buruuj. Urutan selanjutnya aku. Kemudian ibu di sebelah kananku melanjutkan setoran dengan membaca surat Al-‘Alaq. Selanjutnya Ibu berbaju coklat, membaca surat At-Takatsur. Kemudian urutan terakhir adalah seoarng ibu muda yang sepertinya blasteran Arab (terlihat dari wajahnya yang putih, mancung) beliau membaca surat Al-Baqoroh halaman 4. Hingga akhir kelas, aku sungguh takjub. Semangat dan kemauan para peserta majelis tersebut yang rata-rata tergolong lansia sungguh patut diacungi jempol.

Selanjutnya perjalananku menuju jalan yang sama di nomor 53. Saat memasuki ruang utama, terlihat puluhan ibu-ibu telah menjejali ruangan itu. Terlihat pula dua orang bapak, satu kakek, dan sekitar empat pemuda turut menghadiri majelis yang akan membahas sebuah kitab. Pada majelis itu, keempat kalinya aku takjub dan malu. Majelis itu hamper didominasi ibu-ibu berusia tiga puluhan ke atas. Kemana para pemuda-pemudinya yaa..??? pikirku. Hmm…. Aku jadi memuhasabah diri. Apakah memang sudah menjadi tren, belajar mengaji dan menghadiri majelis-majelis ilmu dilakukan saat usia sudah mendekati batas akhir maut menjemput? Padahal kita tak tahu kapan kita dijemput malaikat Isrofil. Hikmah lain yang hari ini kudapat adalah berlomba-lomba dalam menumpuk pahala menuju tiket surga tak kenal usia. Surga diperebutkan oleh semua orang berapa pun usianya di seluruh penjuru dunia. Bagaimana denganku? Bagaimana dengan umat Islam yang lain? Pantaskah kita mendapatkan tiket menuju istana akhirat yang dijamin kesejahteraannya..? sudahkah kita memiliki amal unggulan untuk bersanding dengan hamba-hamba yang Mulia, Rasulullah saw, para Nabi dan Rasul, keluarga, para sahabat, para syuhada yang gugur di medan perang? Mari berfastabikul Khairat..

___JSR_13022012
»»  READMORE...

Jumat, 23 Desember 2011

Hafalan oh Hafalan –Jarang diMuroja’ah, Mesti Kalah dengan Tilawah














-Alhamdulillah.. Selalu saja ada nasehat yang didapat ketika menghabiskan malam minggu bersama AL-Qur’an dan para pengajarnya-
Berikut ini saya tuliskan cuplikan percakapan antara murid dengan ustadznya.

Murid : Ustadz, hari ini saya hafalan halaman 14

Ustadz : Monggo silakan

Murid : (Mulai menghafal-ta’awudz-basmallah-membaca surat Al-Baqoroh ayat 94 sd 101).

Ustadz : Hmm… ini hafalan baru atau lama?

Murid : Hafalan lama Ustadz, saya hanya mengulang hafalan saja.

Ustadz : Kalau hafalan baru harusnya halaman berapa?

Murid : Halaman 18 Ustadz, hehehe (sambil nyengir)

Ustadz : Kenapa sekarang mengulang hafalan halaman 14?

Murid : (Masih sambil cengar-cengir) Hafalan-hafalan saya yang sebelumnya pada hilang Ustadz, makanya saya memantapkan lagi dengan mengulang menghafalnya.

Ustadz : Kenapa bisa begitu? Kamu sibuk kuliah ya? Atau ada kesibukan yang lain sehingga tidak sempat hafalan?

Murid : (Merenung sejenak-berpikir) Ndak juga Ustadz

Ustadz : Atau jarang di-muroja’ah 1) ya? Jarang dibaca kembali hafalan-hafalannya?

Murid : (nyengir lagi) Iya Ustadz, saya jarang muroja’ah. Mungkin karena saya futur. Jadi sewaktu menghafal, sudah berulang-ulang dibaca tapi susah sekali masuknya. Kalau mau hafalan dan muroja’ah, seringkali kalah dengan tilawah 2), apalagi ada target tilawah.

Ustadz : Hmm.. begitu. Saya jelaskan sedikit. Pada dasarnya menghafalkan Al-Qur’an itu hukumnya fardu kifayah, sama dengan hukum shalat jenazah. Dimana ketika ada seorang muslim yang telah mengerjakannya, maka gugurlah kewajibannya. Namun ada banyak sekali keuntungan bagi seorang yang menghafalkan Al-Qur’an. Sangat sayang jika kita melewatkan ibadah yang satu ini-hafalan. Salah satu keuntungan menjadi penghafal Al-Qur’an adalah dikumpulkan bersama para penghafal Al-Qur’an di surga. Di surga, manusia akan dikelompokkan berdasarkan hafalannya 3). Naah.. Menjaga hafalan yang telah kita miliki hukumnya wajib, sedangkan tilawah hukunya sunnah.

Murid : (Berpikir. Berkata dalam hati, “Dikelompokkan berdasarkan hafalan kita di surga? Waduuh, hafalanku masih sedikit. Gimana ini..? berarti harus produktif untuk menghafal. Hmm..”)
Ooo.. begitu Ustadz. Berarti lebih diprioritaskan muroja’ah daripada tilawah?

Ustadz : Insya Allah begitu. Muroja’ah Insya Allah akan memiliki pahala yang sama dengan tilawah, bahkan lebih banyak, karena kita melakukannya dengan berulang-ulang. Namun, bukan berarti dengan menghafal qur’an kita tidak tilawah sama sekali. Kita harus seimbang antara tilawah dengan muroja’ah. Strategi setiap orang berbeda-beda. Terserah kamu bagaimana menyusun strateginya.

Murid : Hmm.. iya Ustadz. Kalau Ustadz sendiri, bagaimana strategi menghafalnya?

Ustadz : Hafalan qur’an itu harus senantiasa dibaca berulang-ulang. Ketika shalat, surat-surat yang telah kita hafal dibaca. Jadi, waktu shalat sunnah maupun wajib, bacaan surat pendeknya tidak hanya surat-surat pendek seperti Al-Ma’un, Al-Fiil, An-Nashr, Al-‘Ashr, Al-Lahab, terlebih tiga surat terakhir Al-Qur’an-Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas. Surat-surat itu pantasnya dibaca anak TK dan SD. Selayaknya, dengan bertambahnya umur, bertambah pula ilmu dan pemahaman kita, termasuk di dalamnya hafalan qur’an kita.

Murid : (menyimak-sambil berkata dalam hati “Haduuh.. Mak tjlep.. tjlep. Tertohok banget”)

Ustadz : (Melanjutkan)
Selain mengerjakan hal-hal yang wajib, kita juga harus mengerjakan yang disunnahkan Allah, yaitu perbuatan yang dicontohkan Rasulullah saw. Naah, dalam sehari, kita tidak hanya shalat fardhu yang lima waktu itu saja kan? Ada shalat rawatib (sebelum subuh, sebelum & sesudah dhuhur, sebelum ashar, sesudah magrib, dan sebelum & sesudah isya’), shalat dhuha, shalat tahajud, shalat witir, dan shalat-shalat sunnah yang lain. Jadi strateginya, ketika shalat-shalat sunnah itulah hafalan qur’an yang kita miliki dibaca. Misalnya ketika shalat lail, dimana jumlah raka’atnya tidak dibatasi, kita bisa memantapkan bacaan qur’an kita untuk surat-surat juz 30. Ketika shalat dhuha, bacaan surat Al-Baqoroh yang dimiliki bisa juga dibaca semampunya. Di sisi lain, kita pun harus membaca ulang hafalan qur’an kita setiap harinya. Misalnya sekarang, kamu sudah punya hafalan 18 halaman juz 1. Naah.. itu tinggal dibagi aja, setiap setelah sholat, tilawahnya diganti muroja’ah 3-4 halaman.

Murid : Tapi Ustadz, terkadang, ketika sedang shalat dan saya membaca surat yang telah saya hafalkan, seringkali hafalan itu putus di tengah jalan. Bingung melanjutkannya. Akhirnya saya berganti surat-surat pendek yang lebih saya hafal. Bagaimana Ustadz?

Ustadz : Iya tidak apa-apa. Membaca surat-surat Al-Qur’an ketika shalat hukumnya sunnah. Jika lupa, bisa langsung dilanjutkan ruku’, kalau mau mengganti surat lain yang lebih dihafal juga tidak masalah. Langkah selanjutnya setelah shalat adalah segera membuka Al-Qur’an dan membaca surat yang tadi lupa bacaannya. Hal ini harus segera dilakukan untuk menghindari menumpuknya hafalan surat yang terbengkalai karena kita jarang melakukan muro’jaah.

Murid : Iya Ustadz.***

Catatan Kaki:

1) Muroja'ah = mengulang kembali hafalan
2) Tilawah = mengaji Al-Qur'an
3) Dalam sebuah hadits, dikatakan bahwa, Dari ‘Abdillah bin ‘Amr nin ‘Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda: Akan dikatakan kepada Shohib Al-Qur’an, penghafal Al-Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkanlah sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al-Qur’an di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu di di surge sesuai dengan jumlah ayat/akhir ayat hafalan yang pernah engkau baca”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Lalu…? Bagaimana dengan hafalan surat kita?
Selama hidup ini, sudah ada peninngkatan menghafal berapa persen…?
Jika sewaktu-waktu dipanggil oleh Yang Maha Pencipta,
sudah siapkah dengan kondisi kita saat ini…????
Mari berlomba-lomba dalam Kebaikan… ^^



**18 Des 2011_07.20 WIB.
»»  READMORE...

Minggu, 18 Desember 2011

BUROQ-KU

Satu-satunya kendaraan yang kupunya adalah Buroq. Buroq itu sebuah nama. Nama dari sepeda tua berwarna ungu. Sepeda yang kudapat dari seorang akhwat senior -dia yang namany tak perlu disebut-supaya hanya aku dan beliau saja yang tahu, juga supaya amalnya tetap ikhlas penuh barokah.

Buroq… dulu aku berpikir dua kali ketika akhwat senior itu menawariku sepeda warisan. “Sepeda warisan…? Pasti jelek sekali, bisa malu aku memakainya..” batinku waktu itu. Namun, tak mengapalah.. dari pada jalan dengan beban di pundak yang semakin bertambah dan rute perjalanan yang kian panjang nan melelahkan. Ku singkirkan jauh-jauh pikiran burukku tentang ‘sepeda warisan’. Berpositive thinking, bahwa sesuatu yang jelek tak selamanya jelek. Dan kubuktikan hal itu benar..!!!

Beberapa waktu setelah kepulangan beliau – akhwat senior, dia yang namanya tak perlu disebut – meninggalkan kampus perjuangan ini, aku mengambilnya. Ku dapati banyak karat menyelimutinya. Sepeda yang seperti memang sudah tak layak pakai, pikirku waktu itu. Namun, dengan segenap ketelatenan dan kesabaran, aku berusaha mengubah sepeda itu menjadi sepeda impianku. Sepeda yang memiliki keranjang, enak dipakai, enteng, bisa ngebut, dan remnya yahuut.. Alhamdulillah.. akhirnya terkabul juga. Walau biaya untuk membeli aksesoris sepeda dan memperbaikinya lumayan besar (menurutku – sebagai seorang mahasiswi dengan uang saku ngepres).
Buroq.. Nama itu terinspirasi drai peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah saw, teladanku, yang melakukan perjalanan dengan kendaraan bernama Buroq. Kendaraan itu berkecepatan tinggi, sangat cepat hingga bisa menembus langit ke tujuh.

Buroq, hamper dua tahun aku bersamanya. Tak henti menggunakannya di pagi, siang, sore, bahkan malam hari. Jarak dekat, sekitar ITS biasa ku lalui. Bahkan jalan medokan dan jalan darmo pun pernah ku jelajahi bersama Buroq.

Banyak kenangan bersamanya. Ngebut-ngebutan di jalanan ITS dan sekitarnya. Pengalaman ini dilatarbelakangi oleh mepetnya waktu yang ada untuk menuju tempat tujuan. Juga karena udah lewat jam malam, juga karena sepinya daerah yang ku lalui sehingga membuat bulu kuduk berdiri semua. Pengalaman mengangkat Buroq gara-gara pagar jalan ditutup. Ini sering kualami di jalanan deket PPNS. Huff… harus mengeluarkan segenap tenaga untuk mengangkatnya. Pengalaman ban bocor luar dalam yang harus membuatku sabar. Hmm… menuntun Buroq dari Masjid Manarul Ilmi ITS hingga tukang tambal ban gebang ataupun Keputih (deket Sakinah). Juga pengalaman menuntun Buroq, untuk menemani seorang teman yang sedang berjalan sendirian,

BUROQ… Melesatlah… menyatulah dengan ku dan angin di sekelilingmu… Jadilah sahabat setiaku.. Let’s Go…. (terinspirasi dari nyanyian kartun tamiya berjudul ‘Let’s Go!’)

Let’s Go..
Bersatu dengan angin
Raihlah mimpi-mimpimu
Ku tak akan pernah menyerah
Rasakan deru angin
Winning Run…

Buroq.. oh Buroq..
kuharap, engkau tak hanya menjadi kendaraanku di dunia, tapi juga di akhirat…
kuharap engkaulah yang menjadi saksi atas perbuatan baikku..
bersamamu aku berjuang di jalan Allah
baik untuk menuntut ilmu
»»  READMORE...

Kamis, 01 Desember 2011

Percakapan di sebuah perusahaan

Suatu hari di sebuah perusahaan.
X: Ini Mba tehnya, silakan diminum.
Z: Terima kasih Bu. Maaf saya sedang puasa.
X: Waah,, hebat bener Mbanya, puasa Senin-Kamis ya Mba?
Z: Oh, bukan Bu, saya puasa sunnah yang lain, yang sehari puasa-sehari tidak.
X: Waah.. hebat-hebat. Dulu saya waktu muda juga sering puasa Mba. Waktu jaman SMP-SMA-Kuliah gitu. Sering tirakat, puasa Senin-Kamis, tahajud, dhuha. Ibadahnya getol banget. Waktu muda dulu memang lagi semangat2nya ibadah Mba, soalnya lagi banyak2nya yang diinginkan. Ingin lulus dengan nilai baik, masuk sekolah favorit, universitas favorit, sampe dapet kerjaan yang gajinya lumayan. Masa muda dulu memang menyenangkan. Rasanya tenaga dan semangat itu gak habis2. Ingin ini, ingin itu, semua dilakukan.
Z: .... (mendengarkan dan menyimak)
X: Tapi sekarang sudah beda jaman Mba. Sedih rasanya melihat diri saya. Sudah jarang puasa, jarang bisa bangun malam, jarang mengaji apalgi buka Al-Qur'an. Hafalan2 pada hilang. (sambil sedikt menunduk, memandang pada layar laptop) Semakin bertambah umur, ujiannya semakin banyak Mba. Tanggung jawab pun semakin besar. Tuntutan pekerjaan mengharuskan tampil dengan kesehatan prima, kalau puasa, rasanya lemes banget, kurang produktif, saya pernah ditegur atasan saya karena kurang semangat bekerja dan sering menguap. Apalagi sekarang sudah punya suami dan anak. Kerjaannya tambah banyak. Pulang kerja ndak bisa santai2, harus masak, nyuci, mandikan anak, nemanin belajar anak, dan setumpuk pekerjaan rumah lain telah menanti.
Z: .... (masih menyimak)
X: (melanjutkan lagi) Kamu masih muda Mba, manfaatkan masa mudamu sebaik-baiknya. Kalau sudah kayak saya ini, susah melakukan hal2 yang saya mau. Pertimbangannya banyak, harus bilang suami, gimana nanti anak kalau ditinggal, dan lainnya. Ribet. Mumpung masih muda, harus banyak tirakat. Biar ntar bisa memetik hasilnya, jadi orang gede. Saya dukung kamu Mba buat istiqomah Puasa. Kalau bisa, Mba jangan niru saya ya. Mba harus bisa istiqomah puasanya, jangan berhenti, terus ibadah, sampe Mba menghadap pada Sang Pencipta. Jangan hanya beribadah sampe setelah udah dapet kerja aja, atau keingan sudah tercapai.
Z: Iya Bu. Insya Allah.
X: Saya sangat senang bertemu Mba. Saya jadi termotivasi lagi untuk memperbaiki diri. Saya harus banyak merenungi kehidupan yang sudah saya lalui. Banyak yang sudah tersia-siakan.
Z: Iya Bu, saya juga senang bertemu dengan Ibu. Saya bisa belajar banyak hal (sambil manggut2)
X: Subhanallah.. saya sadar, inilah rencana Allah. Saya dipertemukan dengan Mba, supaya saya bisa bangkit lagi, mulai puasa lagi. Bismillah, Insya Allah.
X: Oiya Mba, saya punya wejangan satu lagi untuk Mba. Kalau sudah kerja nanti, jangan terjebak dengan kegiatan rutinitas. Berangkat pagi pulang sore, trus di rumah mengerjakan pekerjaan rumah kemudian tidur. Rugi banget Mba, kurang produktif. Mba harus bisa mengelola waktu Mba dengan sebaik-baiknya. Alhamdulillah Mba, meskipun ibadah sunnah saya sudah mulai kendur, saya masih bisa ikut pengajian lho Mba. Saya senang bekerja di perusahaan ini. Setiap satu minggu sekali ada pengajian yang boleh diikuti siapa saja, direktur, manajer, staf, hingga petugas cleaning service. Senang rasanya bisa berkumpuldengan saudara dan saudari seiman, mendengarkan petuah2 dari Ustadz. Ustadznya juga keren2 lho Mba, yaa.. walau ndak terlalu terkenal.
Z: Iya Bu, terima kasih atas wejangannya.
X: Hari ini hari apa ya Mba?
Z: Hari KamisBu.
X: Waah.. kebetulan, setiap kamis pengajiannya. Ntar ikut pengajian sama saya Mba.
Z: Iya Bu, Insya Allah.
******************
Hmm.. begitu rupanya kehidupan dunia kerja,
terjebak dengan rutinitas akan menurunkan produktivitas.
Terlena dengan kehidupan dunia,
dapat melalaikan amanah sebagai hamba kepada Sang Pencipta.
Akankah kita senantiasa Istiqomah dalam beribadadah pada-Nya
hingga malaikat pencabut nyawa berhadapan dengan kita?
Bismillah..
Yaa Allah Yang Maha membolak-balikkan hati,
Istiqomahkan kami untuk tetap berada pada agama-Mu.
JSR_011211_09:56
»»  READMORE...
') }else{document.write('') } }